#DelengPilemJeh adalah suatu kegiatan screening film yang diadakan oleh komunitas Jumat Sore Studio, salah satu tempat berkumpul para sineas Cirebon untuk sharing dan berbagi banyak hal seputar film. Kegiatan ini merupakan agenda rutin dari komunitas Jumat Sore sebagai salah satu bentuk apresiasi terhadap para pembuat film di Cirebon.

                                    Kegiatan Screening Film

Kegiatan teranyar  DelengPilemJeh yang diadakan pada Sabtu, 19 Januari 2019 ini merupakan kali kedua Jumat Sore mengadakan screening film. Tidak hanya menampilkan film-film yang ada, namun juga menghadirkan para pembuat film itu sendiri. Ada sesi diskusi yang melibatkan sutradara dari film-film tersebut. Pembahasannya mencakup jalan cerita film, managerial syuting, hingga teknis pengambilan gambar, audio hingga editing.

Salah satu tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk membangun animo masyarakat seputar Cirebon terhadap dunia film pendek. Karena menurut komunitas Jumat Sore, antusias kita untuk hal ini masih sangat memprihatinkan. Salah satu parameternya dapat dilihat pada saat pelaksanaan kegiatan. Penonton yang hadir pun sekadar untuk menonton film. Dapat dilihat saat diskusi, tidak banyak penonton yang mengajukan pertanyaan seputar film yang diputar. Banyak juga yang keliru dengan maksud dari kegiatan ini. Ada beberapa film maker yang mengirimkan filmnya untuk kompetisi. Padahal kegiatan ini merupakan penayangan film dan diskusi dari para pembuat film. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Cirebon belum terbiasa dengan screening film semacam ini.

                    Diskusi bersama sutradara dari pembuat film

Di acara screening film sesi 2 kemarin, ada 4 film yang masuk daftar putar di penyelenggaraan. 2 diantaranya adalah film yang proses syuting serta krunya berbasis di Cirebon. Film berjudul “Manut” produksi dari Miracle of Deadline Production disutradarai oleh Muhammad Saidi, membahas mengenai makna tari berokan kebudayaan Cirebon; lalu film berjudul “Unresponsible” produksi dari Viewpoint Project disutradarai oleh Rio Firmansyah, mengangkat mengenai kasus korupsi yang kerap kali terjadi di pemerintahan; ada juga film berjudul “Ditunggu Tuhan” produksi dari Degradasi Production berkolaborasi dengan Lare Grage yang disutradarai oleh Tanzilal, menceritakan mengenai 30 hari terakhir hidup Eka, salah satu korban kecelakaan pesawat Lion Air JT610; dan yang terakhir film berjudul Nduk produksi dari Kamar Semut yang berkolaborasi dengan Epic Roll disutradarai oleh Fakhrun Aun.

Keempatnya merupakan film yang lolos seleksi dari banyaknya yang masuk untuk ditayangkan. Harapan dari terselenggaranya acara ini yaitu masyarakat Cirebon lebih bisa menghargai sineas lokal agar ke depannya dunia perfilman, terutama di sektor lokal, bisa semakin lebih baik dan mengangkat Cirebon dari film-film yang dihasilkan.

Shares
Share This