Provokator dan Biang Kerok Kadang Lebih Beruntung Dari Pekerja Keras

Bukan menjadi rahasia dalam dunia kerja ataupun organisasi orang yang sungguh-sungguh bernasib kurang beruntung. Bahkan kalah beruntung dibandingkan orang yang kerjanya hanya sebagai penjilat, biang kerok atau provokator.

Apa sih sebenarnya provokator ? Yup provokator adalah orang yang kerjaanya memprovokasi. Pengertian provokasi adalah suatu tindakan yang menyebabkan reaksi seseorang seperti menjadi marah atau menyebabkan seseorang untuk mulai melakukan sesuatu.

Sebenarnya provokator adalah pekerjaan kotor bahakan sering menimbilkan konflik. Namun banyak loh provokator yang sengaja dipelihara bahkan mendapatkan penghasilan yang sangat wah, lebih besar dari seorang PNS atau pgawai BUMN.

Apalagi dalam kontestasi politik peran provokator sangat penting untuk memancing emosi lawan. Apalagi era digital dan hampir semua orang menggunakan medsos.

Provokator biasanya melontarkan sebuah isu untuk memancing lawan berkomenatar. Bahkan tidak segan mereka lontarkan dalam grup lawan. Otomatis anggota grup tidak terima dan banyak komentar yang menghujat bahkan dengan makian.

Saat sudah terpancing emosi mereka tidak sadar sudah dimainkan emosinya oleh provokator yang sengaja memancing. Apakah sang provokator akan membalas? Tentu saja tidak karena tugas mereka hanya memprovokasi saja.

Namun kubu yang terpancing setiap hari melontarkan hujatan kepada sang provokator bahkan terus dishare kepada yang lain. Mereka tidak sadar digital marketing sang provokator sudah dimakan dan memang itu tujuanya.

Bahkan tidak jarang pihak yang terpancing emosinya berurusan dengan pihak kepolisian. Pasal yang digunakan adalah perbuatan tidak menyenangkan dan pelanggaran UU ITE.

Peran penting itulah yang membuat provokator lebih beruntung dari pekerja keras. Karena pekerjaan ringan sang provokator bisa menjadi senjata ampuh menghancurkan kekuatan lawan. Bikan hanya di dunia politik namun olahraga pun kerap terjadi.

Sepakbola terkadang kita melihat aksi provokasi oleh satu pemain yang mengakibatkan pemain lain emosi dan lepas kontrol. Bahkan tidak menutup kemungkinan pemain yang terprovokasi melakukan tindakan tidak pantas bahkan memukul yang berakibat diberi kartu merah oleh wasit. Adilkah ini ? Tentu saja tidak namun itulah yang terjadi bahwa provokator lebih beruntung dari pada korban provokator.

Lalu yang kerap mendapat penghargaan lebih adalah penjilat dan biang kerok. Penjilat ini pandai memainkan emosi pimpinan dan memberi asupan negatif. Namun kelihaianya mampu membuai pimpinan hingga lebih mempercayai dirinya ketimbang pekerja yang bersungguh-sungguh.

Mari kita kenali penjilat dan biang kerok. Biasanya kedua jenis manusia ini bekerja malas dan kerap tidur saat pimpinan tidak ada. Kemufian suka mengkorek kehidupan dari rekan kerjanya. Saat ada bos dia bekerja keras agar dipuji, saat bos bertanya rekanya keman biasanya dijawab tidak tahu dan menjelekan. Padahal kawanya yanh sudah bekerja sedari pagi saat dia hanua tiduran.

Para penjilat ini kalau bercerita di depan pimpinan pasti kerap berbisik atau mencuri waktu berdua dengan bosnya. Ulah penjilat dan biang kerok kerap lebih mujur karena mandapat bonus dari pimpinan. Sedangkan para pekerja keras mendapatkan ganjaran peringatan bahkan pemecatan.

Tragis memang dan kerap kita menilai ini tidak adil. Namun ini benar terjadi, oleh karena itu kita harus berhati-hati dengan provokator, penjilat dan biang kerok agar para pejuang yang tulus, para pekerja keras tidak menjadi korban.

Shares
Share This