Film Sexy Killers-Dibalik Listrik Terdapat Gelap Hidup Masyarakat

film-sexy-killers-watchdoc
film-sexy-killers-watchdoc

Film “Sexy Killers” merupakan film dokumenter yang digagas oleh tim expedisi biru dan rumah produksi WATCHDOC, dengan berkolaborasi bersama 14 videographer dan 2 jurnalis yang berkeliling Indonesia selama satu tahun. Film ini bercerita tentang dampak yang disebabkan oleh sektor pertambangan batu bara dan PLTU terhadap masyarakat sekitar hingga keterlibatan politik di sektor batu bara dan PLTU.

Gunung yang semula mengalirkan air untuk sawah dan kebun masyarakat sekitar, kini sudah menjadi lahan pertambangan batu bara. Masyarakat sekitar yang sebenarnya adalah para petani yang mengikuti program transmigrasi pemerintah dari Jawa dan Bali pada tahun 1970-an. Kini mereka hanya mengandalkan air hujan dan air bekas tambang yang membawa serta endapan lumpur untuk mengairi sawah mereka.

“Dulu sebelum ada bangunan batu bara sawah ndak rusak, ndak amburadul. Sekarang, ada bangunan batu bara rakyat kecil malah sengsara, yang enak rakyat yang besar. Ongkang-ongkang kaki terima uang. Kalo kita terima apa ? terima imbasnya, lumpur !” Kata salah satu petani yang tidak diberitahukan namanya.

Dalam film ini, diperlihatkan bagaimana keadaan lokasi tambang batu bara yang berada di Kalimantan Timur. Terdapat bekas lubang galian hingga 350 lubang yang sampai saat ini belum tertutupi atau di reklamasi. Salah satu lubangnya bahkan berada persis dibelakang bangunan sekolah. Antara tahun 2011 – 2018 tercatat 32 jiwa melayang, akibat tenggelam di lubang bekas tambang di Provinsi Kalimantan dengan mayoritas anak kecil. Secara nasional antara tahun 2014 – 2018 jumlah yang tewas mencapai 115 jiwa.

Satu hal yang cukup miris, terjadi ketika Gubernur Kaltim (Isran Noor) memberikan tanggapan terkait banyak nyawa yang melayang akibat adanya lubang tambang, beliau hanya menjawab “Memang sudah takdirnya meninggal di tempat tersebut”.

Hal lain yang diangkat dalam film ini adalah tentang pengoprasian dan pendirian PLTU yang sangat memberikan kerugian bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Mulai dari kapal-kapal Tongkang yang melewati Kawasan Konservasi Karimun Jawa, dan menyebabkan rusaknya biota laut dan terumbu karang, sekaligus menghilangkan mata pencaharian nelayan. Disisi lain, proses pengoperasian PLTU akan menghasilkan berbagai bahan kimia, diantaranya ialah Merkuri, PM 2.5 dan lainnya yang apabila tehirup oleh manusia akan menimbulkan penyakit berupa asma hingga kanker.

Upaya masyarakat untuk memprotes kepada pemerintah tentang penambangan batu bara dan pendirian PLTU berakhir dengan dijatuhi hukuman berupa penjara.

Untuk itu perlu kita ingat Listrik yang sedang kita nikmati ini merupakan bagian dari penderitaan masyarakat yang hidup di lingkungan sekitar sana.

Lalu, masihkah harus kita tambah penderitaan mereka dengan melakukan pemborosan listrik ?

Shares
Share This