Pemilu Menjurus Polarisasi Benturkan Anak Bangsa

Karyneiko
  • 5 bulan
  • 204
  • 0

Pemilu 2019 merupakan ajang pesta demokrasi di negara Indonesia. Jangan sampai pemilu  semakin menjurus pada polarisasi yang berdampak pada benturan antar sesama anak bangsa.

Apalagi kalau polarisasi itu selalu diperkuat dengan narasi politik identitas.

Sejarah dunia sudah mencatat  banyak bangsa dan negara yang mengalami nasib tragis retak, pecah bahkan bubar selamanya. The tragedy of devided nation. Tentunya jangan sampai negara kita mengalaminya, karena para pejuang sudah bersusah payah menyatukan negeri ini.

Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono bahkan memberikan himbauan Penyelenggaraan kampanye nasional tetap dan senantiasa mencerminkan “inclusiveness“, dengan sasanti “Indonesia Untuk Semua” Juga mencerminkan kebhinekaan atau kemajemukan.

“Juga mencerminkan persatuan. “Unity in diversity”. Cegah demonstrasi apalagi “show of force” identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuansa ideologi, paham dan polarisasi politik yang ekstrim,”

Pemilihan Presiden yang segera akan dilakukan ini adalah untuk memilih pemimpin bangsa, pemimpin rakyat, pemimpin kita semua. Karenanya, sejak awal “set up”nya harus benar. Mindset kita haruslah tetap “Semua Untuk Semua” , atau “All For All”.

Calon pemimpin yang cara berpikir dan tekadnya adalah untuk menjadi pemimpin bagi semua. Jangan sampai mengedepankan identitas atau gemar menghadapkan identitas yang satu dengan yang lain, atau yang menarik garis tebal “kawan dan lawan” untuk rakyatnya sendiri, hampir pasti akan menjadi pemimpin yang rapuh.

Rakyat Indonesia harus menelan narasi bahwa seolah dibelah sebagai “pro Pancasila” dan “pro Kilafah”. Kalau dalam kampanye ini dibangun polarisasi seperti itu,  khawatir jika bangsa kita nantinya benar-benar terbelah dalam dua kubu yang akan berhadapan dan bermusuhan selamanya.

Bahkan lebih parah lagi capres Jokowi dibuat narasi bahwa beliau pendukung komunis dan Prabowo sebagai pendukung khilafah.

Bagi kita Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika adalah harga mati. Tidak boleh NKRI menjadi Negara Agama ataupun Negara Komunis. Indonesia adalah “Negara Pancasila” dan juga “Negara Berke-Tuhanan”.

Bebaskan negeri ini dari benturan identitas dan ideologi yang kelewat keras dan juga membahayakan. Gantilah dengan platform, visi, misi dan solusi. Tentu dengan bahasa yang mudah dimengerti rakyat.

Jadi adakah gunanya saling pamer kekuatan yang memancing amarah rakyat. Membuat para pendukung saling berbenturan saling bermusuhan bahkan bersimbah darah. Bukankah kita satu saudara yang harus saling jaga dan bahu membahu mempertahankan serta mengisi kemerdekaan agar tidak lagi mudah diadu domba.

 

 

Shares
Share This