Pudarnya Nilai Toleransi Dalam Demokrasi

Karyneiko
  • 3 minggu
  • 63
  • 0

Demokrasi adalah sebuah sistem pemerintahan dimana seluruh rakyat bisa berpatisipasi secara langsung ataupun melalui perwakilan. Negara kita setiap 5 tahun mengadakan pesta Demokrasi melalui pemilihan umum (pemilu).

Tahun 2019 pesta demokrasi berbeda dengan pemilu sebelumnya. Dimana pemilihan legislatif berbarengan dengan pemilihan presiden.

Pemilu yang konon merupakan pesta demokrasi rakyat namun dijadikan ajang pertempuran baik langsung ataupun tidak langsung.

Prihatin memang dengan beberapa kejadian menjelang pemilihan semakin keras dan saling serang pun terjadi.

Adanya penghadangan calon presiden oleh pendukung capres lainya kerap terjadi. Bahkan terkadi bentrok antar pendukung capres. Sudah tidak layak dikatakan pesta demokrasi namun lebih kepada peran.

Saling hujat, fitnah bahkan makian kerap kita lihat di media sosial. Para pendukungpun semakin panas dan saling caci dengan pendukung lainya bahkan terjadi saling tantang menantang.

Toleransi dalam demokrasi semakin memudar oleh fanatisme yang berlebihan. Bahkan lupa akan teman, sahabat, kerabat bahkan saudara.

Toleransi secara bahasa berasal dari bahasa latin “tolerare”, toleransi berarti sabar dan menahan diri. Toleransi juga dapat berarti suatu sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya.

Sikap toleransi dapat menghindari terjadinya diskriminasi, walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.

Toleransi dalam berdemokrasi tentunya saling menghargai pilihan orang. Karena setiap warga negara berhak memilih calon yang sesuai dengan hatinya.

Miris bila masih satu bngsa namun terjadi saling caci maki, mengumbar kebencian, bahkan fitnah. Apa sebenarnya yang didapatkan dari semua itu ?

Pudarnya toleransi berdemokrasi menjadi pemicu dari disintegrasi bangsa. Bahkan bukan hanya terjadi pada pilpres namun pileg pun terjadi perusakan alat peraga seorang caleg oleh caleg lainya.

Tentunya ini bukan dilakukan oleh para calon. Namun timses para calon yang terlalu fanatik membuat suasana semakin panas dan saling membalas. Tidak jarang terjadi adu otot bahkan adu jotos. Inikah yang dinamakn pesta demokrasi?

Semoga tulisan ini bisa menggugah kesadaran saudara setanah air. Isi kepala boleh beda, hati boleh beda, pilihan boleh beda namun kita satu tanah air, satu bangsa dan satu negara bersatulah.

Pesta demokrasi seharusnya dilaksanakan layaknya sebuah pesta. Penuh sukacita, meriah dan riang gembira. Bukan dijadikan ajang perpecahan dan permusuhan.

 

Shares
Share This