Aku Anak Desa

Cirebonmedia.com- Namaku Abdul Rohmat, biasa dipanggil Rahmat. Aku tinggal di Bantarujeg, Kabupaten Majalengka, lahir di desa kecil, 25 April 1991.

Orang tuaku bekerja sebagai buruh tani. Kekuatan fisik kedua orang tuaku tidak diragukan lagi, sebab otot-otot mereka selalu berkeliaran di tengah sengatan matahari.

Otot yang kuat itu telah mengalir dan mendiami setiap sendi di tubuhku. Peluh mereka yang terlampau membanjiri pematang sawah menjadi mutiara di setiap pandanganku. Dan itulah yang membuatku mampu bergerak melampaui batas-batas kelelahan. Membuatku lupa bila ini pagi terlalu dini untuk aku pergi. Tapi orang tuaku tahu bahwa kepergiaanku tak kan pernah sia-sia.

Aku tercipta dari benih seorang ayah yang tangguh dan terlahir dari rahim seorang ibu yang tak kalah tangguh. Maka sebagai anak pertama aku harus tumbuh sebagai anak tangguh pula.

Kisah ini bermula dari sebuah perjuangan yang baru aku rasakan. Saat itu aku masih ingusan. Masih duduk di bangku sekolah dasar.. Meski masih ingusan, tapi aku bisa berpikir lebih cepat dibanding teman-teman seusiaku lainnya. Aku juga punya semangat lebih untuk bersekolah.

Jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh menghabiskan waktu satu setengah jam. Bila anak-anak yang lain datang ke sekolah diantar oleh ibu atau ayah dengan motor atau jarak dari rumah mereka ke sekolah cukup dekat dan mereka berjalan kaki tanpa nyeri otot kaki, aku lebih dari itu. Lebih bahagia, karena dengan perjuanganku bangun subuh dan berangkat dari rumah pukul 05.00, aku bisa sampai ke sekolah tepat waktu.

Aku berangkat sepagi mungkin bukan karena takut macet, tapi karena harus berjalan kaki. Begitu pun saat pulang sekolah. Ini bukan lantaran orang tuaku kejam tidak memberi uang saku atau malas mengantarku ke sekolah dengan motor. Jangankan motor, sepeda pun aku tidak punya. Uang saku kadang dikasih kadang ngga, kalau dikasih aku tetap jalan kaki ke sekolah dan lebih baik uangnya kutabung. Kalau ngga dikasih, aku selalu bilang sama ibu bahwa yang penting aku sudah makan di rumah. Sudah kenyang.

Orang tuaku selalu bilang aku harus sekolah tinggi jangan seperti beliau hanya lulusan SD. Berkat dorongan, motivasi, dan doa dari kedua orang tua, Alhamdulillah aku selalu mendapat peringkat kedua di kelas sampai aku duduk di SMP kelas dua pun masih tetap sebagai juara bertahan. Meski selalu berada di urutan kedua, tapi  aku bangga bisa mengalahkan 38 siswa lainnya di kelas.

Oh ya, biarpun anak desa, tapi aku bisa Berbahasa Inggris. Buktinya nilai Bahasa Inggrisku selalu tertinggi. Selalu di atas angka sembilan puluh.

Dan biarpun aku ini laki-laki, tapi sejak SMP aku sudah bisa masak nasi. Kalau orang tuaku pulang dari sawah, sampai ke rumah beliau tinggal makan. Aku bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan baik, menyapu dan mengepel, tidak kalah dengan wanita.

Sebetulnya aku punya rahasia besar. Rahasia yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun, kecuali Tuhan. Tadinya aku berniat merahasiakan ini sampai aku tua, tapi setelah kupertimbangkan sangat matang, akhirnya aku pun memilih untuk percaya dan akan kubuka rahasia ini pada kalian semua, tapi bila ternyata suatu saat orang lain di luar kalian mengetahui akan cerita ini, artinya salah seorang di antara kalian telah berani membocorkannya dan aku tidak akan tinggal diam. Akan kucari sampai ke celah terkecil. Dan jika sudah kutemukan mulut ember itu, akan kucabut semua uban yang tumbuh di kepalanya.

Janji ya, jangan ceritakan ini pada siapa pun !

Ketika SMP, aku sering mendapatkan uang dari beberapa teman. Bukan hasil memalak, tapi dari rajinnya aku mengerjakan PR mereka. Aku rela menjual ideku, kepintaranku demi mendapatkan uang dari mereka anak-anak malas.

Kadang aku berpikir mereka adalah anak-anak bodoh. Mendapatkan fasilitas dari orang tua. Datang ke sekolah berkendara motor. Bisa jajan di sekolah sesuka hati tanpa takut kehabisan uang. Bukannya belajar, malah menggunakan uang mereka tanpa rasa tanggung jawab. Tugas mereka hanya belajar, tapi mengapa kelihatannya begitu sulit bagi mereka.

Kadang aku juga berpikir sepertinya aku lebih bodoh dari mereka. Berani menjual ide cemerlang demi uang yang tidak seberapa. Padahal kalau dipikir-pikir sebuah ide sangat mahal harganya. Buktinya ide Pak Habibie dalam membuat pesawat terbang dihargai dengan tidak main-main. Bernilai tinggi. Ide untuk membuat naskah film pun dihargai dengan nominal cukup tinggi.

Ah, itu sekadar pikiran semu. Hanya untuk memotivasi diri bahwa aku bisa meraih cita-cita. Aku ingin menjadi seorang guru, karena selain bisa membelajarkan, aku pun bisa menimba ilmu dari mereka, dan berkumpul dengan orang-orang baik.

Guru adalah cerminan segalanya bagi murid. Jangan hanya kedok, misal di forum resmi bicara bagus, tapi di luar tidak mencontohkan. Guru harus memperlihatkan ahlakul karimah.

Kembali lagi ke soal pendidikanku. Saat SMP kelas tiga nilai-nilaiku merosot. Bukan tanpa alasan dan alasannya bukan karena malas, tapi karena beban hidup yang harus kutanggung. Orang tua tidak lagi mampu membiayaiku sekolah, maka saat itulah aku mulai berpikir keras. Berusaha mendapatkan uang lebih banyak untuk biaya sekolah. Masa sulit ini bisa kulalui dengan penuh pengorbanan. Dengan giat bekerja, ngojek hasil tani dan jadi kuli panggul, akhirnya aku bisa tetap bersekolah.

Masuk SMA sampai lulus SMA, Alhamdulillah nilai-nilaiku terbaik. Masa itu ayah bisa DP motor.

Lulus SMA tahun 2010 membuatku berpikir, lalu apalagi yang aku cari? Ilmu, ya sampai kapan pun aku akan mencari, menimba ilmu. Aku ingin kuliah, namun itu tidak mungkin. Biaya kuliah cukup besar. Aku perlu mengumpulkan banyak uang agar bisa duduk sejajar dengan para sarjana. Akhirnya aku memilih untuk bekerja lebih dulu.

Lima tahun bekerja di luar kota mulai dari jual siomay, di bangunan, pemasangan internet, sampai tugas lapangan di salah satu bank sudah kenyang kutelan.

Tahun  2015 keputusanku bulat kembali ke kampung. Aku mengikuti tes Kementrian Agama dan lulus, diterima menjadi penyuluh agama dari Desa Gunung Larang, non PNS mendapatkan tunjangan Rp 300.000,00 / bulan. Puji syukur.

Di tahun yang sama, aku kembali diberi hadiah oleh Tuhan. Dengan uang Rp 700.000,00 yang kubawa, aku memberanikan diri mendaftar di Perguruan Tinggi Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam. Aku diterima dan mendapatkan beasiswa.

Kini aku menempuh semester lima. Alhamdulillah IPK 3,50. Dengan pencapaian nilai tinggi tentu menjadi motivasi bagiku terutama dan khususnya kebahagiaan bagi kedua orang tua. Beliau bilang aku harus lulus dan menjadi seorang sarjana.

Sekarang kegiatanku selain kuliah, pastinya masih tetap dengan ngojek hasil tani. Membawa hasil tani dari sawah ke rumah pemilik. Masih tetap jadi kuli panggul. Ya, lumayan buat bayar kuliah. Tempo hari nguli pasir. Ngangkut pasir pakai karung dan ditaruh di motor. Dipindahkan dari jalan ke rumahnya dapat Rp 150.000,00.

Selain kuliah dan bekerja aku juga mentransfer ilmu pada anak-anak di kampung. Bada dzuhur, ashar, dan magrib aku selalu mengajar ngaji di mushola. Meski pendapatan sebagai guru ngaji tidak seberapa, tapi yang penting bisa beramal. Mudah-mudahan jadi pahala di akhirat. Tiap jumatan, aku selalu dipercaya jadi Muadzin.

Satu tahun terakhir ini ayah alih profesi sebagai kuli bangunan, ibu tetap buruh tani, dan aku adalah aku anak desa yang tidak manja, tapi selalu menyusu pada orang tua. Anak desa yang tidak cengeng, tapi selalu berkaca-kaca bila mengingat nasib dan dosa. Anak desa yang pintar, tapi sempat bodoh, anak yang baik, tapi bego. Anak yang sholeh menurut kedua orang tuaku.

Inilah aku, anak desa.

Oleh:  Fz Susan

Shares
Share This