Anisa yang Tangguh

Cirebonmedia.com- Menjadi seorang istri sekaligus ibu bukanlah hal mudah. Di samping melayani suami dengan baik, juga harus mampu mendidik anak – anak agar tumbuh seperti yang diharapkan. Bukan hanya itu, saya juga harus mampu menjaga kehormatan dan keutuhan rumah tangga.

Bagi saya dan suami, anak – anak merupakan masa depan kami. Pondasi sebuah rumah tangga adalah agama dan pemusatan pendidikan berbasis agama baik di rumah, sekolah, mau pun di tempat lainnya selalu dilekatkan pada diri anak – anak kami.

Dalam keseharian saya berupaya menjaga komunikasi dengan anak – anak. Dulu saat saya masih bekerja di sebuah kantor yang menuntut jam kerja dari pagi hingga malam hari terasa begitu menyita kebersamaan saya dengan anak – anak. Bangun saat subuh menyiapkan diri sebelum berangkat kerja dan menyiapkan anak – anak sebelum berangkat sekolah merupakan kegiatan rutin yang melelahkan, namun mengasyikan. Pengabdian diri sebagai seorang ibu tidak bisa terukur oleh apapun.

Ketika tahu anak – anak mengalami perkembangan cukup baik di sekolah, prestasi yang didapat tidak terlepas dari peran saya sebagai orang tua membuat saya bangga. Ini menjadi tolok ukur bahwa saya telah mampu mendidik anak – anak menjadi pribadi berhasil. Ditambah dengan mudahnya anak – anak bila diajak sholat lima waktu. Pemupukan nilai – nilai spiritual dalam keseharian keluarga kami tentu saja dibentuk oleh suami yang sangat saya sayangi.

Suami saya sangat baik. Paham agama dan teladan bagi anak – anak. Saya sangat menghormatinya dan saya tahu semua keputusan yang diambil suami Insya Allah berlandaskan agama untuk kebaikan rumah tangga kami.

Memiliki anak tiga dengan beda usia setahun membuat kami perlu banyak berkorban. Melakukan interaksi secara intensive membuat kami tahu tentang tumbuh kembang anak – anak kami. Anak pertama kami laki – laki yang kami beri nama Farid. Farid harus menjadi anak yang baik. Dapat memberikan contoh bagi adik – adiknya serta menjaga dan melindungi mereka. Fathin yang merupakan anak kedua kami dan Fani anak ketiga kami. 3F biasa saya singkat, mereka bersekolah di sekolah yang sama.

Suami saya bekerja sebagai wirausaha. Jam kerjanya tentu tidak seperti saya. Ia bisa menentukan sendiri kapan jam kerjanya. Dalam kondisi semacam ini suami saya lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak – anak dibanding saya, bahkan suami sayalah yang menjemput anak – anak sepulang sekolah. Namun bila terpaksa harus menemui klien, suami pun harus rela meninggalkan anak – anak bersama pembantu yang setiap hari sengaja saya suruh datang ke rumah untuk membersihkan rumah sekaligus mengurus dan menjemput anak – anak dari sekolah bila saya dan suami tak ada.

Seringnya saya pulang malam, bahkan terkadang hari libur pun saya diminta masuk kantor kian mempersulit pertemuan saya dengan anak – anak. Lelah memang. Kerja iya, mengurus anak – anak juga iya. Inilah risiko menjadi wanita karir.

Hampir delapan tahun bertahan sebagai wanita karir tentu banyak sekali rintangan. Bila pulang dari kantor larut malam dan suami tidak bisa menjemput karena menjaga anak – anak atau ada pertemuan dengan klien, mau tidak mau saya harus pulang sendiri naik angkot. Turun dari angkot bila sudah tidak ada beca, saya pun terpaksa jalan kaki. Sesampainya di rumah bila anak – anak sudah tidur artinya inilah kesempatan saya untuk bisa langsung beristirahat, namun bila anak – anak belum tidur lantaran memang tidak bisa tidur karena sengaja menunggu saya pulang maka itulah saat tersulit bagi saya karena terkadang anak minta ditemani main lebih dulu padahal sudah waktunya jam tidur dan saya sangat lelah. Biasanya untuk menemani anak – anak yang belum tidur, saya pun menceritakan beberapa dongeng dari buku cerita yang sering kami beli di toko buku.

Memang jadi wanita karir itu sangat tidak mudah, terlebih ketika anak – anak sedang sakit. Mengorbankan kantor demi menjaga anak – anak atau meninggalkan anak – anak demi pekerjaan? Sehari tidak berangkat kerja mungkin bisa, namun bila anak sakit hingga berhari-hari, mana yang selanjutnya dikorbankan? Tentu pada akhirnya anaklah yang menjadi korban, karena tidak mungkin saya ijin bolos kantor selama berhari-hari. Posisi saya memang terbilang enak di kantor, makanya saya berusaha mempertahankan dengan menjaga kepercayaan atasan. Semaksimal mungkin saya bereskan pekerjaan di kantor tanpa harus saya bawa pulang ke rumah, karena bagi saya pekerjaan kantor adalah pekerjaan wajib yang harus diselesaikan di dalam kantor dan pekerjaan rumah adalah pekerjaan yang wajib diselesaikan di dalam rumah. Tidak boleh dicampuradukan agar tidak terjadi kecemburuan sosial. Namun Alhamdulillah anak – anak begitu memahami kondisi orang tuanya yang harus giat mencari uang demi memenuhi kebutuhan keluarga.

“Mamah kan harus kerja, supaya bisa dapat uang. Nanti uangnya buat aa, teteh, dede sekolah. Kalau mamah ngga kerja nanti aa, teteh, sama dede gimana sekolahnya?”

Itulah cara saya memberikan pengertian pada anak – anak. Berusaha komitmen dalam melakukan dua hal sungguh sulit. Meski anak – anak memahami, tapi terkadang saya juga merasa kasihan. Apalagi saat anak saya sakit, saya pulang larut malam, dan sampai rumah melihat mereka sudah tidur. Apakah saya lalai sebagai seorang ibu?

Keresahan mulai mendera saya. Ada rasa takut melihat tumbuh kembang beberapa anak di luar sana yang kurang kasih sayang kedua orang tua pada akhirnya mencari kenyamanan di luar dengan melakukan hal – hal negatif. Saya khawatir anak – anak saya kelak akan seperti itu karena kurangnya perhatiaan saya terhadap mereka sebagai akibat kesibukan saya di kantor.

Saya mencoba bertahan. Suami pun tetap mendukung karir saya.

Kekompakan saya dan suami dalam membina rumah tangga membuat pencapaian keberhasilan kami dalam mendidik anak tidak perlu diragukan lagi, namun bukan berarti rumah tangga kami selalu adem ayem. Adalah pertengkaran kecil. Namanya juga rumah tangga pasti ada liku – likunya, tapi karena dasar saling pengertian dan rasa kasih sayang sehingga apapun ujiannya Alhamdulillah bisa kami lewati. Pertengkaran kecil yang sempat beberapa kali terjadi, kami berupaya untuk tidak memperlihatkannya di hadapan anak – anak. Sebelumnya memang kami telah sepakat karena pandangan kami sama menilai sebuah pertengkaran yang sangat tidak cocok bila dilihat anak – anak, maka bila suatu saat kami sebagai orang tua bertengkar sepantasnyalah hanya kami berdua yang tahu dan berupaya secepat mungkin mencari solusi untuk memecahkan masalah tersebut.

Biasanya saya dan suami saling terbuka, namun beberapa bulan belakangan ini saya terpaksa menutupi suatu hal yang belum terbukti kebenarannya. Saya merasa atasan saya sepertinya memberikan perhatian lebih pada saya. Ah, mungkin hanya suudzon saya saja. Tapi beberapa kali saya bertemu beliau di ruangannya sempat secara tidak sengaja saya memergoki beliau memandangi saya, namun beliau langsung mengalihkan tatapan. Saya merasa khawatir barangkali ada dari cara berpakaian saya yang keliru, mungkin mengundang syahwat. Ah, tapi semua perempuan di kantor ini berpakaian seragam. Mungkin hanya perasaan saya saja. Di sela – sela pekerjaan kantor, bila saya dan teman – teman sekantor beserta atasan sedang bersama pasti ada saja kalimat – kalimat atasan saya yang memuji hasil pekerjaan saya atau bila waktunya makan siang beliau sering bertanya saya sudah makan belum atau bila pulang larut malam beliau selalu menanyakan saya pulang dengan siapa, dijemput atau tidak, mau diantar atau tidak dan mau tidak mau saya berbohong dengan mengatakan ya nanti dijemput. Kadang bila pekerjaan saya di kantor sudah selesai dan saya belum melihat atasan saya ke luar dari ruangan, saya pun bergegas ke luar cepat pulang agar tidak bertemu dengan atasan, karena bila bertemu pasti saya ditawari naik tumpangan beliau. Bukan saya tidak menghargai beliau, tapi saya berusaha menjaga perasaan suami dan agar tidak terjadi suudzon. Atasan saya belum menikah dan saya dengar dari beberapa teman dekat sekantor bahwa beliau suka pada saya meski saya telah bersuami dan memiliki tiga anak.

Sempat beberapa kali saya terkesima dengan lantunan ayat Al’Quran yang beliau baca di mushola kantor. Saya sengaja mendengarnya. Begitu indah. Lalu beliau menyambungnya dengan membaca arti dari ayat tersebut.

Seketika itu juga saya teringat suami saya. Bayangan suami saya sedang melaksanakan sholat duha menggeliat di benak saya.

Astaghfirullahaladzim! Saya hampir terjerumus. Saya tidak boleh terkesima dengan lelaki di hadapan saya. Segera saya pergi dari tempat itu. Langkah saya disertai perasaan resah terhadap apa yang telah saya lakukan. Sesampainya di ruangan, saya berdoa pada Allah agar selalu melindungi saya, suami, dan anak – anak saya.

“Ya Allah jauhkan hamba dari hasutan setan. Lindungi hamba Tuhan. Hamba mohon, jagalah keutuhan rumah tangga yang telah hamba bangun bersama suami hamba. Jadikanlah pekerjaan hamba dan suami hamba sebagai bentuk ibadah kepadaMu Tuhan.”

Kejadian semacam ini tidak boleh diketahui suami saya. Pasti dia kecewa dan berpikir yang bukan – bukan. Akhirnya saya putuskan untuk menutup rapat- rapat kejadian ini juga kejadian – kejadian lain yang berhubungan dengan atasan saya.

Saya berpikir selagi saya masih bisa menjaga diri saya, maka itu artinya saya masih memiliki kesempatan untuk tetap bekerja dan berhubungan dengan orang – orang sekantor.

Entah mengapa semakin ke sini semakin banyak saja agenda kantor yang mengharuskan saya dan atasan saya ke luar bersama untuk menyelesaikan tugas kantor. Pertemuan dengan klien atau pihak perusahaan lain yang akan mengadakan kerjasama dengan kantor kami. Jujur saya bukannya merasa tambah dekat dengan atasan justru merasa tambah kikuk. Ke luar masuk kantor berdua, naik turun mobil milik atasan berdua, bahkan bila masuk jam istirahat dan kami masih di luar kantor kami pun akhirnya makan berdua.

Seringnya kami bersama membuat atasan saya berani mengutarakan isi hatinya. Secara langsung saat makan siang, beliau pun mengatakan bahwa beliau suka pada saya. Beliau meminta agar kejujurannya ini jangan dijadikan beban apalagi sampai membuat hubungan pertemanan di antara kami jadi tidak baik.

“Saya hanya ingin jujur tentang perasaan saya.”

Kalimat itu yang saya ingat. Beliau juga meminta maaf kalau pada akhirnya harus berkata jujur.

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan perasaan yang dimiliki atasan saya terhadap saya. Jelas itu adalah perasaan cinta. Cinta adalah anugerah yang diberikan Allah kepada seluruh umat manusia. Tanpa cinta, manusia tidak akan mampu bertahan hidup.

Saya sangat menghargai kejujuran beliau, namun tetap saja pada akhirnya saya harus lebih membatasi diri khawatir terjadi hal – hal tidak diinginkan. Di jaman sekarang perselingkuhan bukan lagi barang aneh. Banyak yang sudah menikah, namun berselingkuh. Alasan apapun, jelas berselingkuh adalah perbuatan yang tidak disenangi Allah.

Belum saatnya saya jujur pada suami, karena ini masih sangat wajar. Begitu pemikiran saya saat itu.

Sampai pada suatu ketika saat memperingati Isra Miraj, kantor mengadakan acara ceramah keagamaan. Menjelang peringatan beberapa teman saya mengatakan bahwa penceramahnya adalah atasan kami sendiri. Saya percaya tidak percaya, karena mereka mengatakan hal tersebut sambil tertawa.

Dan tepat di malam peringatan, ternyata benar yang dikatakan teman – teman saya. Lagi – lagi saya terkesima dengan lantunan ayat Al’Quran yang dibacakan atasan saya. Rasa terkesima saya bertambah manakala beliau menjelaskan arti dari ayat tersebut. Beliau mulai berceramah.

Saya mendengar dengan saksama. Tak ada satu kata pun terlewati, bahkan ketika teman saya meminjam handphone saya untuk menelepon keluarganya di rumah, tanpa melihat tas dengan tetap memperhatikan atasan yang masih berceramah tangan saya merogoh handphone yang ada di dalam tas, kemudian memberikannya kepada teman di samping saya.

Rupanya setan mulai merasuki pikiran saya. Saat itu juga saya berikir untuk mempelajari agama dari atasan saya. Perasaan terkesima saya tak kunjung hilang hingga beca yang saya tumpangi telah sampai di depan rumah.

“Mba, sudah sampai.”

Itu kata tukang beca terasa mengagetkan. Efek melamun sepanjang jalan.

Sesampainya di rumah melihat suami dan anak – anak sudah tidur membuat saya berpikir tentang perasaan yang sempat meracuni pikiran saya. Saya menatap dalam wajah suami saya.

“Bila suami saya bisa membaca pikiran saya, dia pasti amat kecewa.”

Entah mengapa tiba – tiba saya menangis. Bayangan kebersamaan dengan suami dan anak – anak menggenangi ingatan saya. Seketika itu saya seperti menjelajah memori yang pernah kami lakukan bersama. Sholat bersama, makan bersama, bermain bersama, membelajarkan anak – anak bersama, bahkan suami mau membantu saya menyiapkan anak – anak sebelum berangkat sekolah.

Setetes, dua tetes air mata ini jatuh tepat di samping suami yang sudah terlelap tidur.

Saat waktu menunjukan sepertiga malam, seperti biasa suami saya membangunkan saya untuk sama – sama melaksanakan tahajud. Selesai melaksanakan sholat, saya pun menceritakan kejadian yang sengaja saya sembunyikan. Saya meminta maaf pada suami atas perilaku saya.

Bersyukur atas karunia Allah, memberikan saya pasangan hidup yang sangat baik. Suami saya memaafkan saya, namun ia meminta saya untuk berhenti dari pekerjaan.

Cukup berat menerima permintaan suami, karena saya sudah bertahun bergabung dengan kantor itu. Saya sudah menganggap orang – orang di kantor sebagai keluarga saya sendiri. Terlebih posisi saya yang terbilang cukup enak dan gaji pun dapat menutupi kebutuhan keluarga. Dari gaji yang saya dapatkan sendiri, saya dapat membeli kebutuhan saya pribadi tanpa merasa terbebani karena saya tidak menggunakan uang suami saya. Ada kepuasan tersendiri ketika seorang wanita bisa memiliki penghasilan sendiri dan mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Kepuasan inilah yang menjadi motivasi saya untuk terus maju berkarir sampai mendapatkan posisi dan gaji tertinggi di kantor demi anak – anak agar kehidupan mereka terjamin.

Penghasilan suami yang tidak menentu meski dapat mencukupi kebutuhan kadang membuat saya risau. Namanya juga wirausaha, ada pasang surut. Namun suami memberikan pengertian lebih dalam akan rezeki yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah.

“Tugas dan tanggung jawab seorang imam, selain menanamkan nilai agama di keluarga juga yang terpenting adalah mencari nafkah untuk istri dan anak – anak. Kalau niatnya memperbaiki meski mengorbankan pekerjaan Insya Allah ada jalan. Sebagai seorang suami, saya bertanggung jawab dunia akhirat atas dirimu dan anak – anak kita.”

Tersenyum, mengangguk, dan berkata ‘iya’ meski berat adalah jawaban saya untuk suami saya demi kebahagiaan dan keutuhan keluarga kami.

Ternyata setelah berhenti dari pekerjaan dan menghabiskan waktu bersama anak – anak membuat saya menyadari bahwa kebahagiaan terbesar adalah manakala saya bisa bersama buah hati dan suami tercinta.

Penghasilan suami menjadi bertambah dan Alhamdulillah selang beberapa bulan berhenti dari pekerjaan, saya diminta mengisi acara psikotes yang diadakan beberapa sekolah. Rasanya lama sekali saya tidak mengisi acara seperti ini lantaran sibuk dengan pekerjaan kantor. Selain itu, ada juga acara lain tetap berbau psikologi yang saya isi, kebetulan saya lulusan psikologi. Ya lumayanlah buat bantu suami. Ini pekerjaan yang bisa saya tentukan sendiri waktunya. Mau diterima syukur, ngga pun ngga apa – apa. Fleksibel dan yang terpenting bisa mengajak suami beserta anak – anak.

Saya benar – benar baru merasakan menjadi seorang istri sekaligus ibu yang sesungguhnya. Mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran hanya untuk keluarga.

Melihat suami saya sibuk menyiapkan presentasi kepada calon klien mendorong saya untuk tetap setia menemaninya dalam doa dan usaha bersama. Ya, saya yakin doa seorang istri untuk keberhasilan suaminya akan terkabul.

Cintailah Allah, maka Allah akan tetap berada dalam hati kita.

Oleh : Fz Susan

Shares
Share This