Menanamkan Rasa Nasionalisme Pada Diri Anak

Cirebonmedia.com- Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah diraih tentu bukan hal mudah. Perlakuan kejam dari bangsa asing terhadap rakyat Indonesia menciptakan sejarah kelam. Selama 350 tahun bangsa Indonesia dijajah oleh Belanda dan 3,5 tahun Jepang pun melakukan hal yang sama. Rakyat Indonesia dipekerjakan paksa, disiksa, bahkan dibunuh dengan kejam bila tidak mengikuti perintah mereka. Kekayaan alam Indonesia dikeruk tanpa belas kasih.

Sejarah telah mencatat berapa banyak harta, jiwa, dan raga yang telah dikorbankan oleh rakyat Indonesia demi sebuah kemerdekaan agar anak cucu tidak menjadi korban kebiadaban bangsa asing dan dapat menghirup udara bebas. Para pahlawan rela mempertaruhkan segalanya.

Bayangkan bila masa penjajahan itu terus berlanjut hingga sekarang? Apakah kita mampu menghadapinya?

Berkontemplasi dalam pekat malam mengenai degradasi moral yang kian memanas di masyarakat, pantaskah hal ini menjadi sebuah hadiah yang layak dipersembahkan untuk para pahlawan bangsa?

Di era kekinian, begitu dinikmati oleh kaum modern mencerminkan kemudahan yang dirasakan dan dapat ditelan oleh siapa pun. Hal ini tentu sangatlah berbeda dengan jaman penjajahan dahulu yang dililit tekanan dan dicekik siksaan.

Bukankah kebebasan yang telah diraih sepantasnya dihadiahi rasa tanggung jawab terhadap tanah air? Menjaga dan mempertahankan NKRI? Tapi mengapa pada kenyataannya baik pemerintah maupun masyarakat kurang mencerminkan hal demikian? Masyarakat kebanyakan sudah tak lagi menjadikan sebuah sejarah sebagai salah satu kenangan yang patut dihargai, bahkan dihormati. Hanya pihak – pihak tertentu sajalah yang masih mengingat, menghargai, dan menghormati arti dari sebuah sejarah perjuangan bangsa Indonesa.

Pemupukan terhadap rasa nasionalisme memang perlu dilakukan mengingat hal ini berkaitan dengan efeknya nanti. Degradasi moral yang terjadi saat ini merupakan salah satu buah dari kian menipisnya rasa nasionalisme. Untuk menumbuhkan rasa nasionalisme sebagai bentuk kecintaan terhadap tanah air tentu perlu kerjasama dari berbagai pihak yang memiliki kesadaran akan arti sebuah perjuangan bangsa.

Dalam hal ini peran orang tua paling dibutuhkan guna menumbuhkan kesadaran anak akan arti perjuangan bangsa. Cara sederhana adalah dengan menanamkan rasa tanggung jawab terhadap barang yang ia miliki. Sejak dini anak sudah mulai dibiasakan untuk menjaga barang – barang miliknya agar jangan sampai hilang. Cara lain adalah dengan mengibarkan Sang Saka Merah Putih di halaman rumah setiap memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus dan Hari Pahlawan pada 10 November, lalu bila anak merespon tindakan yang dilakukan orang tua dalam mengibarkan bendera dengan memberikan beragam pertanyaan, maka dapat dijelaskan mengenai sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Kedua yakni peran guru untuk senantiasa menanamkan semangat, tanggung jawab, rasa solidaritas, dan gotong royong. Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah jangan hanya dijadikan sebagai mata pelajaran berteori saja, namun perlu ada implikasi dari materi tersebut. Dari hasil praktik para siswa ini dapat terlihat seberapa besar keberhasilan penanaman teori yang diterapkan dalam bentuk nyata. Praktik yang dilakukan berguna untuk membentuk siswa menjadi pribadi lebih baik lagi dan bila kegiatan tersebut secara intens terus diterapkan, maka dengan sendirinya hal itu akan menjadi kebiasaan pada diri siswa tanpa mereka merasa terbebani. Mereka akan melakukan segala sesuatu dengan ikhlas dan tulus. Ini merupakan wujud sederhana membentuk siswa menjadi pribadi yang bisa menghargai diri sendiri dan orang lain. Jika penanaman semacam ini sudah menjadi bagian dari kebiasaan dan melekat pada diri mereka, maka dengan mudah siswa dapat diberi pemahaman mengenai arti perjuangan bangsa yang ketika itu direbut dengan pertumpahan darah.

Untuk apa upacara bendera dilakukan? Untuk apa kita berdiri lama di bawah sinar matahari pagi sembari hormat kepada Sang Saka Merah Putih di setiap Hari Senin, pada tanggal 2 Mei di Hari Pendidikan Nasional, 17 Agustus tepat di Hari Kemerdekaan Negara Republik Indonesia, dan pada 10 November di Hari Pahlawan? Untuk apa kita repot – repot mengadakan upacara di waktu – waktu tertentu itu?

Secara teori mungkin mudah menjabarkan kepada siswa, tapi yang sulit adalah menerapkan teori pada siswa. Untuk menerapkannya harus diawali dengan pemberian contoh kepada siswa dari guru. Mengaplikasikan teori, sehingga ketika teori itu dijabarkan kepada siswa dan coba diterapkan kepada mereka, maka mereka akan mengikuti gurunya yang sudah lebih dulu memberikan contoh.

Upaya lain guna menumbuhkan rasa nasionalisme pada siswa adalah dengan menonton film perjuangan. Setelah menonton film, siswa jangan dibiarkan dengan pola pikirnya sendiri terhadap film yang sudah ditonton. Guru harus pula memberikan penjelasan tentang film tersebut. Film perjuangan pasti berkaitan dengan strategi perang dan pertumpahan darah.

Sebetulnya tontonan semacam ini belum cocok dilihat oleh siswa sekolah dasar, namun untuk memperkenalkan bentuk perjuangan maka hal ini dibolehkan, dengan catatan diakhir guru perlu memberikan pemahaman dan penjelasan secara gamblang mengenai film tersebut, sisi mana yang patut dijadikan bahan pembelajaran dan mana yang tidak boleh dilakukan, serta sikap baik seperti apa dari film itu yang pantas ditiru dan tidak pantas ditiru karena merupakan perilaku bertentangan dengan kaidah atau norma yang berlaku di masyarakat. Mengajak para siswa berkunjung ke taman makam pahlawan, tempat atau museum bersejarah bekas jaman penjajahan selain dapat memperluas wawasan siswa juga dapat menumbuhkan rasa menghargai akan keberadaan para pahlawan yang telah gugur di medan perang.

Oleh    : Fz Susan

Shares
Share This