Apakah Anda Termasuk Orang Tua yang Senang Membully Anak?

Cirebonmedia.com- Bunda, anak merupakan titipan Allah yang harus dijaga. Anugerah terbesar karunia Allah yang harus disyukuri. Bunda, pernahkah terbesit dalam benak mengenai tumbuh kembang anak di sekolah? Anak memiliki cara beragam dalam merespon hasil tangkapan dari pengalamannya selama di sekolah. Hal ini karena menyangkut kondisi psikis sang anak itu sendiri.

Ada anak yang ketika mendapatkan pengalaman buruk di sekolah, lalu sesampainya di rumah ia terlihat biasa saja, namun ada pula anak yang justru terlihat murung dan enggan bercerita kepada orang tuanya, maka disinilah orang tua benar – benar dituntut untuk mengetahui kondisi psikologi sang anak dan berupaya menjalin komunikasi secara intensif dengan anak agar ia merasa diperhatikan.

Bila bunda seorang wanita karir, jangan melulu yang dipikirkan hanya urusan kantor saja sehingga melalaikan kewajiban mengurus anak. Anak membutuhkan perhatian dari kedua orang tuanya. Komunikasi yang terjalin sejak dini dapat menumbuhkan keberanian pada diri anak untuk mau terbuka dan bercerita apapun kepada kedua orang tuanya.

Banyak orang tua hanya berpusat pada karir tanpa berpikir mengenai perkembangan anak sehari – hari dan menyerahkan segala urusan pada pembantu di rumah dan guru di sekolah.

Apakah pembantu bisa dipastikan mampu berperan sebagai orang tua dari anak-anak kita? Apakah seseorang yang bukan orang tuanya bisa memperlakukan seorang anak layaknya sosok orang tua yang menyayangi anaknya sendiri? Apakah bunda yakin menyerahkan segala urusan rumah pada pembantu? Lalu bila anak tidak terurus dengan baik, pantaskah seorang pembantu disalahkan? Semua bunda pasti mampu menjawabnya dengan benar.

Guru merupakan orang tua kedua bagi siswa, memang itu benar dan tanggung jawab sebagai seorang guru sangatlah berat karena selain harus menjadikan siswanya berprestasi di bidang akademik atau pun non akademik, guru juga harus mampu mencontoh, menerapkan, dan memupuk siswa agar berakhlak mulia sehingga selain anak menjadi pandai dan dapat bersosialisasi dengan baik juga menomorsatukan sisi agama. Namun siapakah yang lebih bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang anak dari berbagai segi? Tentu saja orang tua bukan? Guru memiliki kesempatan terbatas untuk memantau perkembangan peserta didiknya. Untuk jam sekolah dasar saja antara guru dan siswa memiliki kesempatan kebersamaan yang terbatas hingga jam 10 atau menjelang dzuhur. Untuk SMP dan SMA atau sederajat di atas pukul 12.00, bahkan ada yang sampai menjelang ashar. Selebihnya adalah kewajiban orang tua untuk memantau perkembangan anak. Bila dihitung, jam kebersamaan guru dengan siswa hanya berkisar tiga hingga delapan jam dan enam belas jam sisanya adalah waktu kebersamaan antara anak dengan keluarga terutama orang tua.

Bunda, beberapa anak yang pernah saya temui di lapangan menjadi korban bullying. Baik disadari atau tidak, bahkan bukan hanya terjadi di sekolah atau lingkungan luar saja, di rumah pun anak bisa menjadi korban bully.

 Bunda, tahukah apa itu bullying? Menurut Afin Murtie, S.Psi dalam bukunya Cegah dan Stop Bullying Pada Anak Berkebutuhan Khusus dijelaskan bahwa bullying berasal dari Bahasa Inggris ‘bully’ yang artinya menggertak, orang yang mengganggu orang lemah. Kata bully diberi imbuhan sufiks –ing menjadi bullying yang artinya sebuah tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap orang lain bersifat mengancam, menyerang, dan mengganggu baik secara fisik, verbal, dan psikis atau mental. Bullying dapat menjadikan korbannya merasa tidak nyaman, tersakiti baik secara fisik maupun mental, dan pada akhirnya jika tidak segera ditangani akan mengganggu tumbuh kembang korban terutama secara mental.

Ada beberapa orang tua yang sering mengatai anak dengan sebutan bandel atau nakal selepas anak bermain dan tidak mau mendengarkan perkataan orang tuanya. Padahal kenakalan anak tersebut masih dalam batas wajar. Ada juga anak yang dikatai bodoh, karena tidak bisa melakukan apa yang disuruh oleh orang tuanya dan lebih ekstrim lagi bila orang tua sudah berkata kasar, bahkan sangat kasar terhadap sang anak. Astaghfirullahaladzim.

Anak adalah titipan Allah yang harus disyukuri, dijaga, dibesarkan, dan dididik dengan baik. Bila kelak anak berkata kasar terhadap kedua orang tuanya bisa jadi anak tersebut mencontoh orang tuanya. Maka jangan heran jika ada istilah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Berperan sebagai orang tua tentu sangatlah tidak mudah. Perlu kecerdasan intelektual (IQ), spiritual (SQ), dan emosional (EQ) dalam mendampingi anak.

Kecerdasan intelektual diperlukan manakala menjawab pertanyaan anak. Anak yang sudah mulai pandai bicara biasanya akan sering bertanya tentang hal – hal yang belum diketahuinya. Pertanyaan yang diajukan terkadang mudah, namun kadangkala juga sulit karena membutuhkan pengetahuan yang luas. Semisal ketika saya mendapati percakapan antara seorang anak yang bertanya kepada ibunya kenapa bumi bulat seperti bola. Lalu ia bertanya lagi kenapa bumi itu warna – warni. Nah loh, bagaimana cara bunda menjelaskan bila tidak berbekal pengetahuan? Dan bunda jangan memarahinya bila bunda sedang sibuk mengerjakan sesuatu lalu sang anak menanyakan berbagai hal. Di sinilah pula ada keterkaitan antara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan emosional. Maka jawablah dulu pertanyaannya, karena anak tidak akan pernah berhenti bertanya bila belum mendapatkan jawaban. Selesai menjawab pertanyaan dan anak sudah memahami jawaban yang diberikan, maka dengan sendirinya sang anak pasti akan berhenti bertanya. Terkecuali bila jawaban yang bunda berikan belum dapat dipahami dan belum memuaskan hati anak pasti ia akan terus bertanya. Maka di sinilah bunda dituntut untuk cerdas dalam menjawab dan mengatur emosi. Bunda tidak berhak memarahinya lantaran ia belum memahami penjelasan yang bunda berikan. Anak butuh penjelasan secara gamblang. Jika belum dipahami melalui lisan, maka pergunakan media lain seperti buku bergambar yang dilengkapi oleh cerita atau penjelasan di dalamnya dan bila anak belum juga paham, alangkah lebih baik bila ditunjang dengan media audio visual karena selain anak dapat melihat secara langsung benda – bendanya juga dapat mendengar penjelasannya. Maka dari itu, bunda harus banyak mengoleksi buku – buku bergambar atau kaset berisi pengetahuan berikut penjelasannya secara gamblang. Dengan adanya buku – buku dan kaset – kaset semacam ini di rumah Insya Allah dapat mempermudah bunda dalam memberikan pemahaman kepada anak.

Kecerdasan spiritual yakni bagaimana menanamkan nilai – nilai agama pada diri anak dan memberikan contoh kongkrit. Semisal mengajak anak untuk sholat wajib berjamaah. Bila sejak dini anak sudah dipupuk tentang kewajiban melaksanakan sholat, maka kelak ketika tumbuh besar anak tersebut akan selalu ingat kepada sholat dan tidak melalaikannya. Namun di saat – saat tertentu terkadang anak sulit sekali diajak sholat bersama karena dirinya sedang asyik bermain bersama kawannya atau sedang menonton kartun di televisi, maka disinilah bunda perlu memberikan pemahaman kepada anak tentang sanksi yang akan diterima dirinya bila tidak mengerjakan sholat. Dengan memberikan pemahaman secara perlahan, Insya Allah anak akan memahami dan mengikuti permintaan bunda. Jangan memarahi, karena justru anak akan merasa tidak ikhlas dalam mengerjakan sholat. Tanamkan rasa ikhlas pada diri anak dalam mengerjakan apapun dari hal terkecil. Bunda bisa saja menjelaskan pada anak jika dirinya menunda sholat maka Allah juga akan menunda pemberianNya, jadi doa yang selama ini dipanjatkan anak belum bisa terkabul atau jika anak tidak mau sholat bunda dapat menjelaskan tentang sanksi dosa yang akan diterima anak dan setiap manusia muslim yang tidak mau mengerjakan sholat pasti masuk neraka. Bunda juga bisa menjelaskan tentang neraka itu apa dan bagaimana kesudahan para penghuni neraka. Jika bunda berhasil memberikan pemahaman secara perlahan tentang konsekuensi yang akan diterima bila melalaikan sholat, pasti anak akan merasa takut terhadap Allah dan mau mengerjakan segala perintah Allah.

Menyangkut kecerdasan emosional. Ini sangatlah penting karena bunda dituntut untuk sangat bersabar dalam menghadapi berbagai perilaku anak. Ingat bunda, anak itu akan mengerti bila diberikan pemahaman dan contoh. Jadi bunda tidak boleh memarahi apalagi sampai berkata kasar dan menjelekan anak sendiri.

Bila bunda sering berkata bodoh pada anak, maka dalam benak anak akan tertanam bahwa dirinya memang bodoh. Padahal setiap anak yang lahir ke dunia memiliki potensi berbeda. Minat dan bakat yang dimiliki pasti berbeda satu sama lain. Jangan karena anak tidak mendapatkan ranking di kelas, lalu bunda mengatainya dengan sebutan bodoh. Bisa jadi anak bunda ternyata memiliki potensi di bidang non akademik atau memiliki kreatifitas yang belum diketahui oleh bunda. Cobalah bunda sedikit memberikan ruang dan kesempatan pada anak untuk dapat mengembangkan potensi diri sesuai keinginannya. Bunda, bakat adalah anugerah yang diberikan Tuhan. Bunda harus tahu bakat apa yang dimiliki oleh anak – anak bunda. Jangan sampai menyesal di kemudian hari. Memberikan punishment terhadap anak dengan mengatainya sebagai anak bodoh akan mengendurkan semangat belajar anak.

Contoh lain bila bunda mengatai anak dengan sebutan nakal. Sebutan itu pun akan tertanam dalam benaknya dan anak akan merasa dirinya memang nakal, bahkan anak akan berlaku layaknya anak nakal. Jadi jangan salahkan anak bila nakal terus – menerus. Bisa jadi kenakalan itu juga disebabkan sebutan yang tiada henti diberikan padanya.

Bunda, sabar ya dan upayakan senantiasa memberikan reward pada anak kita bila berhasil melakukan sesuatu yang membanggakan meski pun itu sangat sederhana.

Bunda, semua anak menyayangi dan mencintai kedua orang tuanya, maka dampingi mereka sejak dini dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Seringlah memeluk ia baik sedang berdua atau pun sedang di tempat umum.

Masa depan anak bukan hanya berada di tangan anak, tapi juga berada di tangan kedua orang tuanya. Semangat terus bunda . . .

Oleh : Fz Susan

Shares
Share This