Miris Lapangan Sepakbola Indonesia Berubah Jadi Arena Perkelahian

Karyneiko
  • 6 hari
  • 96
  • 0

Miris memang kita melihat perkembangan sepakbola Indonesia, semakin melambung tinggi bukan karena prestasi tetapi kerap terjadi keributan baik dalam lapangan ataupun di luar stadion.

Jangan mengira hanya ribut antar pendukung loh, kelakuan tidak terpuji pemain pun kerap kita saksikan saat pertandingan berlangsung dan parahnya bisa ditonton langsung lewat tv nasional.

Baku hantam pemain dengan pemain, pemain dengan wasit bahkan official tim dengan wasit. Apa sebenarnya yang mereka cari dan kemana PSSI.

Kenapa kejadian ini kerap terjadi? Mungkinkah PSSI sebagai induk olahraga hanya memberi sangsi ringan hanya larangan bermain beberapa saat dan tentunya sangsi materi lebih utama.

Sangsi materi berupa denda nilainya besar bahkan dalam satu pertandingan PSSI bisa memberikan denda ratusan juta kepada satu tim. Tentunya ini tidak membuat jera.

Saya berfikir sebaiknya PSSI khususnya komite disiplin berani mengeluarkan sangsi tegas. Bagi pemain yang melakukan pemukulan terhadap wasit atau perangkat pertandingan langsung mendapat black list dan larangan seumur hidup berkecimpung dalam dunia sepakbola baik itu profesional atau amatir.

Bila tim yang melakukan penyerangan terhadap perangkat pertandingan maka coret dari daftar anggota PSSI dan dilarang ikut dalam kompetisi resmi PSSI segala kasta.

Tim juga wajib mengedukasi para pendukung agar tidak berbuat anarkis dan rasis. Bila tim tidak mampu berilah sangsi 1 tahun tanpa penonton.

Banyak kejadian fanatisme berlebihan menimbulkan rasis dan tindakan anarkis. Sudah berapa banyak nyawa supporter sepakbola melayang hanya karena fanatisme? Kenapa selalu terulang lagi?

Tentunya kita sangat sedih melihat permusuhan pendukung Persib dengan Persija, pendukung Persebaya dengan Arema. Permusuhan mereka bukan hanya di dalam stadion namun di kehidupan sehari-hari. Perang cacian rasis hampir setiap hari menghiasi media sosial.

Supporter sepakbola itu untuk mendukung timnya agar bersemangat bukan memprovokasi dan berbuat rasis. Kerap kita menyaksikan kalimat rasis d stadion lewat spanduk atau banner dan ini menimbulkan kericuhan.

Ada yang salah dengan sepakbola Indonesia dan harus segera dibenahi. Tentunya induk organisasi segera bertindak tidak hanya berfikir bisnis sepakbola, karena memang sepakbola sekarang ini menjadi bisnis yang luar biasa menguntungkan namun PSSI harus juga mengedepankan sepakbola sebagai alat pemersatu bangsa bukan sebaliknya.

Alasan ketidakpuasan kepemimpinan wasit kerap menjadi pemicu keributan. Bahkan wasit pun ada yang dihajar sampe terjungkal dilapanga. Oleh pemain. Mirisnya pemain ini pernah menjadi Timnas sepakbola Indonesia. Wasit terkapar saat pertandingan Mitra Kukar VS Persewar. Bahkan pelatih kiper dikeroyok oleh pemain lawan.

Ini sepakbola bro bukan ajang tarung bebas. Tarung bebas juga pake aturan bukan wasit dan pelatih yang dipukul.

Apakah fanatisme dalam diri pemain dan supporter terlalu berlebih hingga harus terjadi seperti ini.

Satu kejadian yang tentunya cukup memalukan kemarin terjadi saat timnas Indonesia VS Malaysia. Suppoerter Indonesia menyerah supporter lawan, alasan terprovokasi ulah supporter lawan. Sekarang menjadi sorotan dunia prilaku supporter Indonesia tersebut dan tentunya sangsi dari FIFA menanti.

Namun perlu diketahui saat mendukung timnas Indonesia teta saja terjadi peristiwa yang tidak diharapkan. Kita semua mengira para supporter Indonesia bersatu? Nyatanya tidak karena masih terjadi pemukulan oleh oknum pendukung Persija terhadap pendukung Persib di GBK.

Parahnya pendukung Persib tersebut tidak membawa atribut yang berbau Persib. Namun memakai baju mendukung Timnas Indonesia sama dengan uang dipakai pendukung Persija juga.

Tujuanya sama membela Timnas Indonesia namun karena fantisme berlebih dan entah tujuanya apa hingga melakukan pemukulan.

Tentunya hal ini harus segera diperbaiki, fanatisme tidak boleh menimbulkan rasisme bahkan anarkisme. Tentunya PSSI sebagai induk organisasi harus mampu memberi edukasi bahkan sangsi kepada pelaku kerusuhan yang hany melukai rasa persatuan.

Shares
Share This