Masih Bisa Mengerti Meskipun Typo ? Inilah yang Sebenarnya Terjadi

Evan Setiawan Evan Setiawan
  • 1 bulan
  • 112
  • 0

Typo atau salah ketik sudah sering kita lihat dalam kehidupan sehari-sehari, entah itu dari chat di medsos, berita yang tersaji di koran bahkan dalam penayangan di televisi. Namun, Mengapa kita bisa tetap mengerti saat membaca kata-kata “typo” ?

Ternyata otak kita tidak hanya bergantung pada apa yang tertulis, tetapi juga bergantung pada apa yang kita harapkan terlihat.

Pada tahun 2011 sebuah penelitian dilakukan oleh tim peneliti Universitas Glasgow.  Mereka menemukan bahwa ketika mata menangkap sesuatu hal yang tidak jelas, otak akan menebak apa yang seharusnya mereka lihat untuk mengisi kekosongan atau ketidakjelasan tersebut.

“Secara efektif, otak kita membangun teka-teki yang sangat kompleks dengan menggunakan data atau informasi apa pun yang diperoleh,” kata Fraser Smith, salah satu anggota tim peneliti.

“Hal ini dipengaruhi juga oleh konteks di mana kita melihat mereka, ingatan kita, dan indera kita yang lain,” tambahnya, dikutip dari Sciencalert, Sabtu (31/3/2018).

Sementara itu, Matt Davis, peneliti di bidang Kognisi dan Ilmu Otak dari Universitas Cambridge, melacak dan menemukan sebuah penelitian yang dikerjakan oleh Graham Rawlinson. Dalam penelitian tersebut, ada 16 percobaan yang dilakukan dan semuanya membenarkan bahwa seseorang mampu memahami kata-kata yang huruf tengahnya diacak.

Namun demikian, ada beberapa poin penting yang ditemukan oleh Davis, misalnya:

  1. Kemampuan tersebut lebih mudah dilakukan pada kata-kata yang singkat, karena mengandung lebih sedikit variabel.
  2. Kata-kata yang digunakan dalam struktur tata bahasa semisal “and” dan “a” biasanya tidak diacak karena singkat. Hal ini dapat membantu pembaca membentuk struktur kalimat dan menebak.
  3. Akan Lebih mudah dibaca saat letak huruf yang diacak berdekatan dengan posisi asli, misalnya “porbelm” untuk “problem”, daripada menjadi “plorebm”.
  4. Kata-kata yang tak beraturan di kutipan tersebut tidak membentuk kata baru, misalnya “calm” dan “clam”, atau “trial” dan “trail”.
  5. Lebih mudah ditebak jika kata yang salah mirip dengan vokalisasi kata yang benar, misalnya “order” menjadi “oredr” dan bukannya “odrer”.
  6. Posisi huruf ganda yang tetap berdekatan, juga lebih mudah untuk diartikan, misalnya “aoccdrnig” dan “mttaer” daripada “adcinorcg” dan “metatr”.
  7. Isi teks harus dalam tingkat kesulitan yang masuk akal untuk ditebak.

Jadi, bisa dibilang bahwa ada beberapa proses kognitif menarik yang terjadi di otak kita, saat menggunakan kemampuan prediksi dan melihat bentuk kata. Itulah yang menyebabkan kita tetap bisa mengerti meskipun terdapat typo atau salah ketik.

Shares
Share This