Toxic Friend yang Merugikan

Toxic friend? Teman beracun? Sejenis binatang berbisa?

Sebagai makhluk sosial, manusia tentu tidak bisa hidup seorang diri. Ia membutuhkan orang lain dalam kesehariannya. Keluarga dan teman-teman bisa memengaruhi kehidupan seorang insan. Seperti yang pernah disabdakan oleh Nabi kita Muhammad SAW bahwa saat kamu berteman dengan tukang minyak wangi, kamu akan mendapatkan aroma wangi darinya. Dan saat kamu berteman dengan tukang pandai besi, kamu akan terkena percikan apinya. Dan kalaupun tidak, kamu akan tetap terkena bau asapnya yang tak sedap.

Teman yang baik tentu akan membawa pengaruh baik pada kita. Begitu pun sebaliknya, saat kita berada di tengah pergaulan yang buruk secara sadar ataupun tidak kita akan terbawa arus. Kecuali mereka yang sudah bisa membentegi dirinya dengan prinsip yang dipegang kuat-kuat. Bergaul dengan siapapun tidak akan bisa mengubah kepribadiannya dan itu hal yang sulit dilakukan. Kebanyakan dari kita mudah terbawa oleh pergaulan sekitar.

Toxic friend (teman beracun) atau bisa juga diartikan sebagai seorang teman yang membawa pengaruh tidak baik bagi diri kita. Tidak hanya perangainya yang memberikan dampak negatif, tapi juga pemikiran serta ucapan  yang bisa mengganggu ketenangan diri. Berbeda pemikiran tentu bukanlah sesuatu yang tabu, tapi hal itu mengganggu saat ia memaksakan pendapatnyalah yang paling benar. Memaksa kita, yang berbeda sudut pandang dengannya, untuk setuju dengan apa yang ia yakini. Tidak bisa diajak berdiskusi, selalu ingin mendominasi dalam lingkungan pergaulan. Ia selalu ingin didengarkan tanpa mau mendengarkan orang lain.

“Kamu kok kurus banget? Kurang gizi apa gimana?”, “Bajumu nggak banget deh, nggak matching sama konsep acara ini”, “Eh tas kamu udah jelek tuh, nggak bisa beli yang baru?”. Ucapan-ucapannya cenderung jahat dan menjatuhkan. Membuat kita sebagai lawan bicara merasa insecure terhadap diri sendiri karena pernyataannya. Rasanya ingin berkata di depan mukanya, “aku koyo ngene yo karna aku nyaman, mbak. Bukan untuk gawe kowe seneng”.

“Ini buatanmu? Kok aneh gini ya? Kaya ada yang keliru”, “Gini doang mah aku juga bisa, gak ada istimewanya”. Haashhhh bodo amat, mbak! “Mending aku masih ono action daripada kowe sing rak ono kontribusi, mung iso komen ae pegawean wong liyane,”.

Saya melakukan hal-hal yang membuat saya nyaman. Berpakaian yang membuat saya percaya diri. Bergaul dengan orang-orang yang bisa membuat saya betah berada di circle itu. Saat ada orang yang selalu mengusik dan cenderung memberikan efek-efek negatif, saya lebih memilih menghindarinya. Bukan bermaksud “pilih-pilih teman”, tapi lebih kepada bentuk perlindungan diri dari kemudhorotan. Manusia sejenis ini akan sering “mengganggu”, merusak ketenangan jiwa dan pikiran. Membuat diri menjadi insecure dan merasa tidak berguna. Padahal untuk menumbuhkan kepercayaan diri tidaklah mudah.

Saya percaya masih ada teman-teman yang bisa membawa saya ke jalan kebaikan. Mempertahankan toxic friend seperti memelihara penyakit. Semakin dibiarkan akan semakin merusak diri sendiri. Cara terbaik mengobatinya adalah dengan menjaga jarak dengannya. Hidup sehat lahir batin tanpa dikontrol oleh ucapan-ucapan orang lain.

Shares
Share This