Terasi dan Sejarah Kota Cirebon

Cirebonmedia.com- Dalam dunia kuliner bahan makanan yang satu ini merupakan salah satu unsur penting dalam pembuatan beberapa makanan tradisonal Indonesia. Memiliki Aroma khas yang sangat tajam yang bagi sebagian orang dipandang sangatlah mengganggu bila tercium, Yak apalagi kalau bukan “Terasi” namanya. Namun tahukah anda bahwa terasi dan sejarah Kota Cirebon memiliki cerita yang sangat dekat?

Terasi adalah bumbu masakan yang terbuat dari olahan  udang kecil, biasa disebut “rebon” atau dalam istilah bahasa Inggris “shrimp paste” yang di fermentasikan. Dengan bentuk adonan berwarna hitam atau cokelat tua, yang kadang juga ditambahkan dengan bahan pewarna makanan sehingga berwarna kemerahan, dalam dunia masakan di Indonesia bahan makanan yang satu ini banyak dibuat menjadi sambal terasi. Sambal terasi ini memiliki keunggulan yaitu sangat cocok bila dipadupadankan dengan berbagai variasi menu makanan khususnya menu makanan tradisional Indonesia.

Tidak hanya di Indonesia saja, terasi juga dipakai di berbagai belahan penjuru Asia lainnya khususnya di Asia Tenggara, Asia Selatan dan Asia Timur. Selain itu Terasi juga memiliki sebutan yang berbeda ditiap Negara, seperti hal nya di Thailand terasi kerap disebut sebagai “kapi” dan di Malaysia terasi dikenal dengan sebutan “belacan” serta di Filipina terasi disebut sebagai “bagoong alamang/bagoong aramang”, sedangkan di Tionghoa terasi dekenal dengan sebutan “heko” (he berarti udang).

Tersebarnya terasi kepenjuru Asia ini erat kaitannya dengan faktor perdagangan, yang mana pada saat itu Kota Cirebon yang terkenal sebagai pembuat terasi (hingga saat ini*), sekaligus merupakan jalur perdagangan yang ramai di abad ke-16. Hal ini tercatat dalam jurnal milik penjelajah Portugis bernama Tome Pires (Cortesao 1944:179), bahkan nama Cirebon (Curban) sudah ada dalam peta dunia yang di buat oleh Diego Ribeiro pada tahun 1529 (Tiele 1883:2).

593x890 (1)Sebagai Kota penghasil terasi yang terkenal hingga sekarang ini, penamaan Kota Cirebon itu sendiri berasal dari kata “Ci” dalam bahasa Sunda berarti air dan “Rebon” dalam bahasa Jawa berarti udang kecil (bahan pembuat terasi).  Dari segi sejarah seperti yang tercatat dalam “Kitab Purwaka Caruban Nagari” pada abad ke-14 awal mula penamaan Kota Cirebon berasal dari kata “Sarumban” kemudian diucapkan menjadi “Caruban” dan mengalami perubahan menjadi “cerbon”, hingga saat ini dikenal dengan sebutan “Cirebon”. Kata Sarumban sendiri memiliki arti yaitu “Campuran”, hal ini terkait dengan keadaan Kota Cirebon pada saat itu didiami oleh berbagai suku dan budaya didalamnya,  hal ini juga yang membuat penduduk asli setempat memberikan sebutan “Garage” diambil asal kata “Negeri Gede”.

Sejarah lain tentang terasi disebutkan dalam buku “Babad tanah Sunda, Babad Cirebon” karya Sulendraningrat, sejarah pembuatan terasi ini merupakan sebuah karya dari Pangeran Cakrabumi (Cakrabuana) seorang anak dari Prabu Siliwangi yang terkenal sebagai pendiri Cirebon.  Atas titah gurunya yang bernama Ki Gendeng Alang-alang sang pangeran diperintahkan untuk membuka lahan dan menanam tanaman palawija, setelah itu mencari udang kecil (rebon) dan ikan. Udang kecil hasil tangkapannya tersebut kemudian ditumbuk hingga halus dan dibentuk gelondongan, kemudian karena rasa dan kenikmatan tumbukan rebon buatannya ini banyak disukai oleh orang, sehingga pembuatan tumbukan rebon ini dijadikan mata pencarian utama di desa tempatnya tinggal tersebut dan terkenal keberbagai penjuru daerah. Hingga Prabu Rajagaluh yang menjadi penguasa saat itu pun menyukai (terasih) dengan hasil tumbukan rebon yang dijadikan upeti tahunan oleh Pangeran Cakrabuana. Oleh karena itu tumbukan rebon yang dihaluskan dan dibuat gelondongan tersebut dinamakan dengan Terasi.

Sampai dengan saat ini terasi masih menjadi salah satu bahan utama yang tidak dapat dipisahkan dalam beberapa menu masakan khususnya di Indonesia. Tidak hanya dijual di toko-toko dalam negeri saja, bahkan di luar negeri juga terasi banyak dijual di tempat-tempat penjualan bahan makanan dengan nama Shrimp paste ataupun balacan.

 

Image By: Google.com

Shares
Share This