Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Saksi Sejarah Peradaban Maju Tempo Dulu

Cirebonmedia.com– Indoneisa merupakan Negara yang unik, banyak sekali sejarah dan peradaban terjadi di Indonesia pada masa lampau, kerajaan-kerajaan masa lampau yang begitu Berjaya yang bisa dilihat dari luas wilayah yang mencangkup beberapa wilayah di Asia tenggara. Berbicara kejayaan suatu kerajaan, tak lepas dari megahnya bangunan yang diwariskan dan terjaga hingga saat ini.

Cirebon merupakan salah satu kota di Nusantara yang memiliki nilai sejarah yang tinggi, pada tempo dulu saat islam masuk ke nusantara yang disebarkan para tokoh yang dikenal dengan Wali Songo, Cirebon merupakan salah satu kota dengan letak strategis dan jadi pilihan untuk penyebaran islam. Salah satu anggota Wali Songo yang berasal dari Cirebon yaitu Sunan Gunung Jati perlahan tapi pasti mulai mendirikan sebuah bangunan megah yang diperuntukan untuk beribadah.

Indonesia sebagai salah satu Negara islam terbesar di dunia memiliki banyak bangunan masjid yang megah, namun ada satu masjid yang mencuri banyak perhatian yaitu Masjid Agung Sang Cipta Rasa, nama masjid ini diambil dari kata “sang” yang bermakna keagungan, “cipta” yang berarti dibangun, dan “rasa” yang berarti digunakan. Masjid ini berdiri kokoh  di aera Keraton Kesepuhan,  Konon menurut cerita,  masjid ini merupakan masjid tertua di Cirebon dan memiliki cerita unik dalam proses pembangunannya yang konon katanya dibangun dalam waktu semalam.

Masjid ini dibangun pada tahun 1489. Dalam proses pembangunannya, Sunan Gunung Jati melibatkan Sunan Kalijaga yang ditunjuk sebagai arsiteknya. Selain itu, Sunan Gunung Jati juga menunjuk  Raden Sepat untuk turut andil dalam proses pembangunan masjid, Raden Sepat merupakan  arsitek Majapahit yang menjadi tawanan perang Demak-Majapahit, pemilihan Raden Sepat bertujuan untuk mempermudah  Sunan Kalijaga dalam merancang bangunan masjid tersebut. Jika dilihat dari arsitekturnya, masjid ini memiliki ciri khas tersendiri, bisa dilihat pada atap nya yang tidak memiliki menara yang menjulang tinggi seperti masjid-masjid pada umumnya dan atapnya berbentuk limas tanpa hiasan ornament satu pun.

Dan salah satu keunikan yang tidak dimiliki oleh masjid lain ialah tujuh orang muazin yang mengumandangkan azan secara bersamaan dan dikenal sebagai “Azan Pitu”. Menurut cerita,  pada zaman dahulu menjelang sholat subuh masjid ini diganggu oleh Aji Menjangan Wulung yang datang menebarkan petaka, beberapa muazin yang mencoba mengumandangkan azan tewas dihajar oleh-nya. Untuk mengusir Aji Menjangan Wulung, Sunan memerintahkan tujuh orang muazin mengumandangkan azan secara bersamaan. Hingga kini azan pitu tetap dilaksanakan di masjid ini sebagai azan menjelang sholat Jum’at oleh tujuh muazin sekaligus dalam pakaian serba putih. Keunikan lainnya terlihat dari pintu masjid yang berjumlah Sembilan dan kesembilan pintu ini melambangkan 9 wali songo tokoh besar dan penting dalam penyebaran agama islam di tanah Jawa. Tak sampai disitu saja, masjid ini juga memiliki 12 sokoguru, serta 2 Maksurah dan dua Mimbar yang  diperuntukan bagi keluarga Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman untuk melaksanakan ibadah sholat berjamaah.

Dengan proses pembangunan yang melibatkan para Tokoh-tokoh tersohor seperti Sunan Kali Jaga dan Raden Sepat serta bangunan unik yang berdiri megah, menunjukan pada kita bagaimana peradaban maju tempo dulu pernah terjadi di Cirebon, sebagai generasi penerus bangsa alangkah baiknya jika kita turut melestarikan warisan sejarah dan buaya yang ditinggalkan oleh para pendahulu kita agara dapat diwariskan kepada anak-cucu serta dunia agar mereka tahu jika Indonesia khususnya Cirebon memiliki peradaban yang maju pada masa lampau.

 

Image By: Google.com

Shares
Share This