Kode Etik ( Tidak Memotong Pembicaraan Orang Lain )

 

Saya memiliki seorang teman yang senang membutakan huruf – huruf dari tragedi yang dia alami semasa hidupnya. Huruf – huruf itu tak akan pernah kembali untuk menjemput masa lalu. Pikirnya, huruf – huruf itu hanya cocok menjadi kenangan.

Sekali waktu saya dapati ia terdiam lama. Menatap jauh ke depan berpusat pada satu titik di kejauhan sana. Entah apa yang menggenang dalam pikirannya. Tentang masa lalu yang berkeliaran atau memang sedang menyusun strategi untuk menempuh masa depan?

Meski dirinya tak lagi setampan dan sekuat dulu, namun bagi istrinya, ia tetaplah seorang pangeran. Kepulan asap yang terhempas dari mulut pria ini tak berani membisikan apapun pada saya, namun bergegas pergi menyampaikan kabar pada angin yang melelah.

Sesaat angin berhembus mengibaskan rambut hitam saya juga uban pria di samping saya yang cinta kediaman.

Tak perlu berlanjut pada kalimat selanjutnya berisikan rangkaian huruf palsu memotret cerita palsu, namun tidak dengan keberadaan pria ini karena sesungguhnya dalam perjalanan hidup yang sudah sekian lama terjalin bersama saya, sosoknya banyak memberikan perubahan. Saya berhutang padanya. Bukan hutang duit, melainkan hutang budi. Meski saya tahu saya tidak punya duit, tapi saya tidak berani meminjam duit padanya karena hutang duit saya kadung melimpah ruah ke banyak orang dan dia tahu itu, makanya dia membantu saya mencarikan solusi supaya saya bisa dapat duit yang bukan cuma recehan. Solusi yang diberikan tidak instan. Saya diwajibkan melakukan ritual sebagai syarat mendapatkan sulusi jitu dan bersenggama bersama makna ambigu ialah proses ritual yang saya jalani. Dalam berpikir keras dan ditemukanlah jawabannya bahwa saya harus ikhlas menjual keringat buat dapat duit.

Setelah saya dapat duit banyak, itu artinya saya punya satu hutang budi terhadapnya. Ditambah dengan pelajaran di luar kelas secara gratis yang diberikan pada saya secara eksklusif, yakni tentang berbagai adab atau etika atau norma atau aturan yang berlaku di masyarakat atau biasa ia sebut dengan kode etik dan ini menambah jumlah hutang budi saya padanya.

Hidup perlu kode etik? Jelas! Itu saya tahu setelah saya banyak belajar darinya yang sudah ribuan kali memakan asam garam pahit berujung manis kehidupan. Sepuluh ribu kali ia bacakan seluruh kitab kuno yang ia tulis sendiri, ia relakan semua pengalamannya untuk membelajarkan saya dengan menempuh dalamnya kesabaran .

Sekarang saya tanya kepada Anda, jawab jujur cukup dalam hati saja. Apakah Anda merasa termasuk ke dalam golongan orang pandai? Atau golongan modern yang hidup di kota?

Pertanyaan selanjutnya adalah dalam hidup Anda sudah berapa kali Anda berhasil memotong pembicaraan orang lain? Sepuluh? Dua puluh? Lima puluh? Seratus atau bahkan ratusan ribu?

Memotong pembicaraan orang lain adalah hal yang tidak diperkenankan. Tidak sesuai dengan kode etik. Berikan kesempatan kepada orang lain untuk mengutarakan apa yang ingin disampaikan hingga ia selesai bicara pada batasan tertentu. Jangan memotong pembicaraan meski alasannya adalah untuk melakukan pembelaan diri. Apapun alasannya, memotong pembicaraan orang lain merupakan bentuk sikap yang tidak sopan. Bila orang tersebut dirasa sudah bicara terlalu panjang kali lebar, maka boleh dipotong namun tetap memperhatikan kode etik bagaimana cara memotong pembicaraan orang lain secara sopan.

Sering kita temukan perdebatan sengit, adu mulut, saling potong pembicaraan lalu berargumen, terjadi di ruang sidang atau rapat bahkan ada yang sampai menajamkan urat leher. Barangkali mau pamer urat leher agar terkesan seperti penguasa kuat. Hal semacam ini bukan contoh yang baik dan pantas ditiru. Kebiasaan itu perlu diakhiri. Kalau rakyatnya ada yang seperti itu artinya memang para pemimpinnya memberikan contoh begitu. Makanya ada istilah rakyat tergantung pemerintahnya. Tul betul itu! Tapi maukah Anda disebut sebagai masyarakat bodoh yang mengikuti contoh keliru? Kita harus cerdas. Cerdas dalam berpikir, bertutur, dan berprilaku. Mendengar dan memberikan kesempatan pembicara mengakhiri kalimatnya sendiri merupakan cerminan bahwa kita menghargai pembicaraan orang lain.

Katanya pandai, katanya sarjana, katanya orang kota, tapi kok tidak paham kode etik bagaimana menghargai sebuah pembicaraan.

Teman saya yang memberikan pembelajaran ini saja bukan orang pandai kok, bukan juga seorang sarjana, tapi ia paham betul bagaimana menghargai orang lain. Meski ia bukan orang pandai dan cuma wong ndeso, namun saya akui ia cerdas.

Kecerdasannya lahir dari kuatnya penanaman nilai – nilai akhlak yang dipupuk oleh kedua orang tuanya selama mereka hidup di desa. Hingga ia tumbuh dewasa dan menemukan ribuan pengalaman yang ditelan habis serta beragam karakter masyarakat hanya sebatas dijabat olehnya lantaran kode etik yang diajarkan oleh kedua orang tuanya masih mengental, membuat dirinya banyak belajar tentang kehidupan.

Ia memang bukan sarjana, bukan juga orang kota. Dia cuma lulusan sekolah menengah umum yang tinggal di desa, tapi praktik akan teori kode etik sungguh diterapkannya dalam kehidupan sehari – hari.

Bagaimana dengan Anda?

Shares
Share This