Camera…. Rolling….. Action!

Beberapa kata di atas merupakan instruksi sutradara pada setiap produksi di lokasi shooting, namun apakah cukup dengan begitu sebuah film digarap dan menghasilkan karya seni yang berkualitas? Jawabnya tak sesederhana itu. Produksi pengambilan gambar di lokasi shooting adalah sekian persen dari sebuah rangkaian proses panjang dan melelahkan sebuah produksi film yang membutuhkan kematangan konsep, keprofesionalan kerja dan tanggung jawab serta konsekuensi di baliknya, menguras banyak tenaga, pemikiran, waktu, bahkan biaya.

 

Prinsip Kerja Membuat Film

Tentunya kita pernah saling berbagi cerita dengan orang lain, orang tua kita atau teman  dekat. Secara sederhana prinsip membuat sebuah karya film hampir serupa dengan metode bercerita kepada orang banyak.

 

Hanya saja ada beberapa perbedaan yang mendasar, seperti kalau kita bercerita hanya butuh media suara dan memberikan keleluasaan audience atau pendengar untuk berimajinasi sesuai rekaan  mereka, tak butuh waktu lama tentunya. Sedangkan dalam sebuah karya film kita bercerita dengan media bahasa gambar dan suara. Disadari atau tidak kita mendikte penonton untuk meyakini imajinasi film yang dikemas dalam bahasa filmis tersebut dan tentunya butuh waktu cukup lama untuk itu. Hanya saja yang terpenting dari kedua hal tersebut yaitu metode atau cara penyampaian cerita harus lebih menarik dan menimbulkan interest audience untuk mengikutinya hingga cerita usai.

 

Karena film media andalannya adalah gambar dan suara, maka yang perlu diperhatikan dan diutamakan adalah kualitas audio-suara dan kualitas visual-gambar. Tak sedikit film yang mengalami kegagalan hanya karena kualitas  gambar yang tak begitu baik, misalnya cahaya kurang memadai atau focus camera blur dan pengambilan gambar yang kurang terarah serta tidak didukung oleh kualitas suara yang baik. Bagaimana penonton paham jika mereka terganjal kedua elemen dasar tersebut sehingga tergagap mengikuti cerita hingga akhir. Sebuah karya film terdiri dari integrasi jalinan cerita. Jalinan cerita terbentuk dari menyatunya peristiwa atau adegan scene. Adegan terdiri dari beberapa sudut pengambilan gambar-shot dan dalam menggarap sebuah karya film haruslah diupayakan sesempurna mungkin. Ada beberapa shot yang dilakukan pengulangan atau perbaikan untuk mendapatkan hasil yang paling baik. Proses ini disebut take.

 

Prinsip Penggunaan Bahasa Film

Komunikasi yang tercipta melalui media film hanya berjalan satu arah kepada penonton. Untuk menyampaikan amanat film maka dibutuhkan media. Oleh karena itu, dalam bahasa film terdapat tiga faktor utama yang mendasarinya yaitu :

 

  1. Gambar atau visual
  2. Suara atau audio
  3. Keterbatasan waktu

 

Gambar atau visual

Gambar dalam karya film berfungsi sebagai sarana utama. Oleh karena itu, untuk menanamkan informasi terlebih dahulu andalkan kemampuan penyampaian melalui media gambar ini. Gambar menjadi daya tarik tersendiri di luar alur cerita. Tak mustahil pemain yang bagus lebih dapat mempertajam atau menarik perhatian penonton, di samping set, property dan tata cahaya yang mempesona sebagai pendukung suasana atau mood.

 

Suara atau audio

Keberadaan suara di sini berfungsi sebagai sarana penunjang untuk memperkuat atau mempertegas informasi yang disampaikan melalui bahasa gambar. Hal ini dimungkinkan karena sarana gambar belum mampu menjelaskan atau kurang efektif dan efisien, juga kurang realistis.

 

Sound effect dan ilustrasi musik akan sangat berguna untuk menciptakan mood atau suasana kejiwaan, memperkuat informasi sekaligus mensuplay atau dapat mempertegas informasi.

 

Keterbatasan Waktu

Faktor keterbatasan waktu ini yang mengikat dan membatasi kedua sarana bahasa film di atas. Oleh karena keterbatasan waktu ini, maka perlu diingat bahwa hanya informasi yang penting saja yang diberikan. Penonton terbiasa menganggap bahwa segala sesuatu yang diberikan atau ditampilkan pasti merupakan informasi penting. Jika ada informasi yang tidak penting, penonton akan tetap menganggapnya penting sehingga akan membingungkan imajinasi.

 

Memahami Karakter Penonton

Berkarya film mempunyai sisi keasyikan tersendiri, karena ada semacam seni atau permainan memahami karakter penonton. Komunikasi media film hanya berjalan one way traffic atau satu arah. Oleh karena itu, pembuat karya film harus jeli melihat segmen penontonnya. Bagaimana dapat menyajikan sebuah karya yang sesuai dengan selera calon penikmatnya, sehingga karya filmnya diacungi jempol karena tepat bidikan.

 

Kemampuan Menduga

Salah satu keasyikan penonton yang harus kita hargai adalah kemampuannya menduga action selanjutnya. Hal ini muncul ketika pelaku dan alurnya dapat dipahami penonton dan sanggup menggerakan pikiran sebagai effect dari planting informasi (penanaman informasi) di awal. Agar dapat menggerakan dugaan tersebut, perlu kita pancing rasa keingintahuannya. Setelah berhasil membuat penonton menduga, selanjutnya pasti penonton ingin membuktikan dugaannya atau menguji kebenaran prasangkanya pada alur ataupun action selanjutnya.

 

Mekanisme Produksi

Mekanisme produksi yang akan dibahas di sini adalah tahap-tahap yang biasa dilalui dalam proses produksi film dan disesuaikan dengan produksi film indie yang diadaptasi dari penggarapan film layar lebar berdurasi panjang.

 

 

Mengolah Ide Cerita

Pertama, yaitu mengolah ide cerita menjadi sebuah scenario dengan beberapa tahap yang biasa dilalui untuk lebih terarah, tidak melenceng jauh dari ide dasar juga untuk mengunci kerangka cerita. Tahap-tahapnya akan dibicarakan lebih lanjut pada pembahasan mengenai scenario.

 

Skenario Draf Awal

Kemudian scenario draf awal yang telah disetujui produser tersebut diolah kembali untuk dikembangkan ataupun disesuaikan guna mendapatkan draft final scenario melalui beberapa briefing pra produksi triangle system yaitu produser, sutradara, dan penulis scenario. Pembicaraan draft final scenario ini, salah satu tujuannya untuk menyesuaikan konsep produksi dengan budget yang tersedia dengan pertimbangan durasi yang akan dihasilkan, serta kemungkinan-kemungkinan lain yang menyangkut kebutuhan dan ketersediaan di tahap produksi nantinya.

 

Menyusun Kru Produksi

Setelah konsep produksi dan perkiraan rencana kebutuhan disepakati, maka perlu kiranya merekrut kru produksi yang sesuai dengan bidangnya dilapangan. Mengapa perlu diseleksi? Karena setiap produksi berbeda kebutuhan orang yang akan bekerja dibalik layar. Boleh jadi posisi penulis scenario, sutradara, produser, sekaligus cameraman, dirangkap oleh satu orang saja, seperti yang sering terjadi dalam produksi film indie.

 

Melengkapi Formulir Produksi

Setelah mendapat kru yang solid, kemudian diadakan rapat produksi bersama tim produksi untuk melengkapi formulir dan berbagai catatan produksi sampai menghasilkan pedoman produksi secara lengkap untuk dijadikan petunjuk pelaksanaan di lapangan.

 

Casting Pemeran

Untuk memerankan tokoh yang digambarkan dalam scenario, maka dibutuhkan casting pemeran. Untuk tahap casting ini sebenarnya tidak semudah seperti memilih teman kita  untuk dijadikan pemeran utama tanpa bekal seni acting. Ada beberapa pertimbangan yang harus dipikirkan antara lain pembawaan naskah, acting, postur tubuh, sehingga sesuai tuntutan scenario dan sutradara.

 

Reading dan Rehearsal Talent

Setelah mendapatkan talent yang sesuai dengan cast yang dibutuhkan dalam scenario, maka langkah selanjutnya harus memantapkan pemeran karakter tokoh cerita film kita. Biasanya tahap ini disebut Reading dan Rehearsal Talent. Reading di sini, talent dituntut untuk dapat membawakan dialog dalam scenario dengan pas, meliputi dialek, pemahaman karakter yang dimainkan, mimik wajah, dan sebagainya. Sedangkan dalam rehearsal, talent harus menguasai blocking sesuai permintaan sutradara dan bila memungkinkan berlatih di lokasi yang akan digunakan dalam pengambilan gambar. Bila perlu talent yang telah terpilih dikarantina dalam satu tempat khusus untuk beradaptasi satu sama lain dan terfokus pada produksi film yang akan mereka bintangi.

 

 

 

Menentukan Lokasi

Masih di tahan pra produksi pada departemen lain, yaitu departemen penyutradaraan dibantu dengan departemen produksi mencari lokasi yang cocok untuk pengambilan gambar disesuaikan dengan location on script. Boleh jadi untuk pertimbangan sutradara digunakan still potografi untuk mendapatkan beberapa gambar lokasi yang akan ditetapkan sebagai lokasi pengambilan gambar. Pertimbangan sutradara mengenai lokasi ini tidaklah mudah, karena lokasi harus terjangkau, ketersediaan sumber energi baik listrik maupun logistik lain, terlebih lagi konsumsi juga akomodasi yang memadai untuk setiap kru pelaksana produksi yang dibutuhkan.

 

Penyiapan Perangkat Produksi

Jangan lupa untuk selalu mengecek segala perangkat produksi, kelayakan pemakaian kualitas dan kapasitas kerjanya, sehingga tidak menghambat proses produksi yang dijadwalkan.

 

Briefing Produksi

Briefing produksi merupakan tahap yang penting agar produksi terlaksana sesuai dengan mekanisme dan prosedur kerja yang diinginkan. Selain itu, briefing produksi merupakan langkah untuk adaptasi setiap kru yang tergabung dalam pelaksana produksi. Pemahaman cara kerja masing-masing, wewenang, dan batas kerjanya sesuai intruksi sutradara sebagai pemimpin produksi di lapangan agar tidak tumpang tindih.

 

Shooting

Setelah semua persiapan produksi dilakukan dengan tertib, kemudian melangkah ke tahap produksi, yaitu shooting. Dapat dikatakan 70% proses produksi dihabiskan pada tahap pra produksi. Dengan pematangan konsep produksi di pra produksi, maka pelaksanaan produksi tak banyak membuang-buang waktu hanya untuk membicarakan darimana kamera merekam gambar, lalu talent melakukan apa saja saat itu atau bahkan ketinggalan properti produksi yang harus ada. Dengan kata lain pelaksanaan shooting hanya tinggal melakukan apa yang telah direncanakan secara matang pada tahap pra produksi.

 

Evaluasi Kerja Produksi

Setelah melakukan pengambilan gambar setiap hari, usahakan untuk melakukan evaluasi kerja produksi yang bertujuan agar kesalahan dan kendala produksi pada hari tersebut tak terulang kembali pada hari berikutnya.

 

Editing

Tahap berikutnya yaitu tahap terakhir atau editing. Pada tahap ini bukan sekedar memilih gambar dan menggabungkannya saja, namun lebih dari itu, memberi sentuhan seni lebih lanjut, seperti memberi visual effect atau sound effect lain yang mendukung jalan cerita. Untuk lebih mengenal beberapa metode editing akan dibicarakan lebih lanjut pada pembahasan mengenai editing.

 

Penayangan Film Perdana

Proses editing memang merupakan proses produksi, namun tak berhenti sampai di situ, bahkan pemasaran karya film baru saja dimulai. Pertama dengan mengadakan premiere atau launching penayangan film perdana. Dari sini kemudian karya film siap untuk diputar dan dipertontonkan untuk umum.

Shares
Share This