Diterpa Kemajuan Zaman, Burok Tetap Bertahan

Cirebonmedia.com– Kota yang unik dengan perpaduan kebudayaan dan kesenian dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Arab serta Cina. Kota yang akrab dengan sebutan Kota Udang dan terkadang juga disebut sebagai Kota Wali. Cirebon sebuah kota yang terletak diantara Jawa Tengah dan Jawa Barat yang merupakan salah satu kota di Indonesia dengan berbagai ragam kesenian dan budaya serta saksi dimana sebuah peradaban maju pernah terjadi disini.

Berbicara mengenai seni dan budaya, ada salah satu kesenian yang unik dari Kota yang dimasa lampau pernah dipimpin oleh salah satu Wali tersohor yaitu Sunan Gunung Jati yang pernah membawa Cirebon berada pada masa kejayaannya. Burok merupakan kesenian yang sering digelar untuk perayaan seperti khitanan, berupa boneka besar berwujud kuda terbang yang dipanggul oleh 4 orang.

Berdasarkan penuturan dari para seniman, Kesenian ini diperkirakan muncul sekitar tahun 1934. Bermula dari seorang penduduk desa Kalimaro Kecamatan Babakan yang bernama Kalil yang membuat sebuah kreasi baru seni Badawang yaitu berupa Kuda Terbang, konon ia diilhami oleh cerita rakyat yang hidup di kalangan masyarakat Islam tentang perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhamad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dengan menunggang hewan kuda bersayap yang disebut Buroq.

Menurut cerita dari beberapa masyarakat Cirebon, pada masa itu masyarakat dikenalkan dengan kesenian burok melalui media lukisan kaca yang pada waktu itu cukup populer dan dimiliki oleh beberapa anggota masyarakat di Cirebon. Lukisan kaca tersebut berupa Kuda sembrani, seekor kuda yang memiliki sayap. Pada saat itu masyarakat Cirebon tidak terlalu asing dengan figur burok ini, atas dasar hal tersebut Kalil melalui kreativitasnya dengan melahirkan sebuah Badawang baru yang diberinama Buroq, sementara keseniannya diberi nama seni genjring Burok.

Jpeg
Jpeg

Pada saat perayaan Khitanan burok atau burokan kerap muncul seabagai seni yang menunjang kemeriahan acara yang berlangsung. Biasanya pertunjukan ini dilangsungkan pada pagi hari dan mulai berkeliling kampung di area perayaan digelar. Sebelum berkeliling kampung, ketua rombongan biasanya memastikan terlebih dahulu bahwa perlengkapan dan kesiapan rombongan sudah siap menjalankan perannya dan setelah itu membaca doa. Arak-arakan dimulai dengan berkumpulnya masyarakat dan anak yang dikhitan dinaikan ke atas boneka burok lengkap dengan pakaian khas daerah, biasanya boneka burok berwujud kuda terbang, Gajah serta Macan. Boneka burok dipanggul oleh empat orang dua di depan dan dua di belakang yang diiringi oleh alunan musik yang terdiri dari 3 buah dogdog yang berukuran besar, sedang dan kecil, 4 genjring, 1 simbal, organ, gitar, gitar melodi, kromong, suling, dan kecrek.

Burok atau burokan memiliki makna syukur kepada sang pencipta. Kesenian ini dianggap seni islami karena mengadopsi kendaraan yang digunakan oleh Rasullulah saat melakukan perjalanan Isra Mi’raj. Karena kisah inilah yang sering diceritakan sebagai dongeng dari tempat-tempat pengajian yang diabadikan juga dalam lukisan-lukisan kaca.

Dengan demikianlah yang membuat masyarakat Cirebon yang mayoritas memeluk Islam mudah menerima kesenian yang satu ini. Meski zaman telah berkembang dan kebudayaan serta kesenian asing berbondong-bondong masuk ke Nusantara, Burok tetap mampu bertahan dan tetap dilestarikan oleh masyarakat di Cirebon dan bahkan tersebar sampai kebeberapa daerah seperi Kuningan, Losari dan Indramayu.

 

 

Image By: Andri “Big” Septioadi/ Cirebon Media

 

 

Shares
Share This