Maraknya Industri Buzzer Politik Berapa Sih Bayaranya

Berkembangnya tehnologi membuat peluang usaha semakin mudah. Kita kerap disajikan informasi bombastis yang berasal dari Buzzer Politik. Secara harfiah, kata buzzer diartikan sebagai pendengung. Jika mengacu pada suatu kegiatan, kurang lebih tugasnya adalah mendengungkan informasi sampai heboh bahkan menjadi trending topik.

Kurang lebis itulah tugas utama seorang buzzer. Bahkan, aksi mereka dinilai bisa ikut mengangkat isu-isu panas untuk membesarkan branding tokoh politik yang didukung dan menjatuhkan lawan politik.

Buzzer pun memiliki peran besar untuk menggiring opini publik, salah satunya menggunakan media sosial. Barisan buzzer kini ampuh dijadikan ujung tombak politikus untuk meraih kemenangan.

Fenomena buzzer kini tak bisa dipisahkan dari kontestasi politik di Indonesia. Antara buzzer dan kubu politik berlaku simbiosis mutualisme. Namun caranya saja yang kadang meresahkan publik dengan hoax atau informasi ‘berat sebelah’. Narasinya benar-benar tak jauh dari kesan propaganda.

Pada umumnya Buzzer berkelompok. Tim ini memiliki 200 sampai 500 akun media sosial. Beberapa diantara mereka ditugaskan untuk mendorong isu-isu pesanan demi menyerang atau bertahan lewat media sosial seperti Twitter, Facebook, dan Instagram.

Agar bisa menjadi trending topik Twitter setidaknya butuh sekitar seribu cuitan dalam waktu intens singkat dari seluruh Indonesia. Lalu disiasati juga pakai tagging area supaya bisa tembus trending topic nasional, tidak hanya di provinsi.

Kegiatan buzzing memiliki dua aspek penting, yakni pesan yang ingin disampaikan dan cara agar pesan itu tersebar seluas-luasnya. Awalnya mereka akan membuat materi terlebih dulu jika sudah ‘matang’, serempak akan disebar ke media sosial.

Ada tiga model yang dilakukan buzzer dalam bekerja. Pertama, menggunakan BOT, yaitu perangkat lunak atau aplikasi untuk menjalankan komando secara otomatis di internet, termasuk memposting hal berbau politik yang memihak.

Kedua, pakai akun-akun palsu. Cirinya memiliki jumlah post, followers, dan following yang sedikit bahkan banyak yang tidak memiliki follower. Ketiga, meminta banyak akun untuk retweet atau like postingannya.

Bisnis Buzzer telah menjadi bagian konstelasi politik di era digital. Buzzer dianggap bekerja dalam lahan basah yang menggiurkan.

Menurut penuturan salahsatu buzzer konon dia menerima upah 3,5 jt perbulan untuk satu order politik. Tentunya dia bekerja secara tim bisa 4-5 orang dan menjalin kontrak dengan pengguna jasa nah nilai kontrak itu dibagi kesetiap anggota tim.

Durasi kontraknya sendiri bisa 3-6 bulan atau bahkan bisa satu tahun tergantung kebutuhan klien. Nilai kontrak tim kecil biasanya berkisar antara 200 – 300 juta. Namun berskala tim besar nilai kontraknya bisa puluhan milyar tentunya.

Pada awalnya, buzzer merupakan strategi marketing untuk mempromosikan sebuah produk lewat media sosial. Namun, seiring berjalannya waktu, buzzer juga digunakan untuk mempromosikan isu atau wacana politik untuk mendongkrak elektabilitas atau popularitas tokoh atau partai politik.

Pekerjaan sebagai buzzer, hingga saat ini belum ada peraturan resmi yang mengikat. Jadi memang bebas-bebas saja dilakukan.

Namun sekarang ini buzzer lebih banyak menyerang lawan politik dengan tujuan menjatuhkan.

Memang sulit mempercayai informasi yang tersebar di dunia maya. Terlebih setelah fenomena buzzer semakin menyeruak.

Selain menyebarkan informasi, tugas lain buzzer adalah memperkenalkan tokoh tertentu yang sebelumnya tidak dikenal baik oleh masyarakat.

Minat menjadi buzzer ? Tidak mudah tentunya. Kita harus memiliki tim yang solid dan cerdas serta menguasai tehnologi.

Namun tidak semua yang kita lihat di media sosial adalah ulah buzzer politik bayaran. Ada juga postingan orang-orang yang suka dengan politik dan senang menulis tentang politik.

Nah yang begini biasanya tidak aman, saat ada kesalahan menulis atau menjurus fitnah dan perbuatan tidak menyenangkan bisa diciduk polisi. Karena hanya perorangan gak ada yang membelanya.

Buzzer yang bekerja secara tim tentunya lebih aman bekerja karena ada ahli hukum bahkan advokat untuk membantu saat terjadi permasalahan. Apalagi kalau buzzer plat merah yang dilindungi. Mereka bekerja seperti kebal hukum, informasi hoax dan fitnahpun dianggap angin lalu saja seperti kejadian ambulance yang dituduh bawa batu dan molotov. Ada juga WAG anak STM yang juga ternyata hoax.

Bahkan salah satu buzzer terkenal Abu Janda yang gemar membuat propaganda bahkan sering mencaci bahkan mencela salah satu orang atau golongan samapi sekarang aman dan terus berkarya dengan propagandanya.

Nah kalian pilih deh mau jadi buzzer oposisi atau pemerintah. Tapi yang penting ada bayaranya jangan gratisan dan konyol sendirian pula.

Shares
Share This