Tradisi Masyarakat Cirebon Dalam Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Cirebonmedia.com– Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa bagi seluruh muslim dipenjuru dunia. Bulan dengan berkah dan rahmat yang melimpah bagi mereka yang menjalankan ibadah dengan baik. Ampunan dari dosa serta kesalahan yang pernah dilakukan ikut kedalam keistimewaan Ramadhan.

Untuk menyambut bulan suci ini, banyak sekali budaya dan tradisi yang dilakukan masyarakat di Indonesia, luasnya wilayah Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau membuat Indonesia kaya akan nilai budaya dan tradisi. Tradisi ini lah yang sering dilakukan masyarakat sebagai ritual atau pertanda menyambut suatu hal yang istimewa.

Tradisi merupakan sesuatu yang telah dilakukan  sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.

Banyak sekali tradisi unik masyarakat di Indonesia dan salah satunya seperti yang dilakukan oleh masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Ada beberapa tradisi yang dilakukan masyarakat Cirebon untuk menyambut Bulan Suci Ramadhan, dan diantaranya ialah:

Tradisi Pawai obor

Masyarakat Cirebon menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan mengadakan tradisi pawai obor. Tradisi pawai obor tersebut sebagai simbol semangat bersatu umat dalam menghadapi bulan yang penuh dengan kebaikan. Biasanya tradisi ini diikuti ribuan warga baik tua, muda, laki-laki, dan perempuan berkumpul dan berkeliling kota membawa obor. Menariknya, sebelum melakukan pawai obor, para peserta akan melaksanakan sholat isya berjamaah terlebih dahulu.

Tradisi ruwahan

Tradisi ruwahan ini rutin digelar oleh Keraton Kasepuhan setiap tahunnya yang berjarak 14 – 15 hari jelang puasa. Rangkaian kegiatan Ruwahan dimulai dari Keraton Kasepuhan yang didahului dengan salat Ashar berjamaah di mesjid Sang Cipta Rasa. Setelah itu dilanjut dengan mendengarkan ceramah mengenai Nisfu Syaban dari tokoh agama dan puncaknya berziarah ke Komplek Makam Sunan Gunung Jati.

 

Tradisi Dlugdag

Dlugdag merupakan tradisi menabuh beduk bertalu-talu sebagai tanda datangnya bulan Ramadan. Tradisi tersebut biasanya digelar di halaman depan Langgar Agung Keraton Kasepuhan Cirebon, Hal itu dilakukan setelah solat Ashar di hari terakhir bulan Syaban. Bedug pertama kali harus ditabuh oleh Sultan Sepuh XIV yang kemudian diikuti para wargi keraton, abdi dalem dan masyarakat magersari Keraton Kasepuhan Cirebon dan  itu pertanda bahwa masuknya bulan suci Ramadhan.

Tradisi Dlugdag merupakan warisan dari Sunan Gunung Jati ratusan tahun lalu, sebagai tanda dimulainya Ramadan. Yang bertujuan sebagai alat informasi kepada masyarakat masa lampau bahwa dengan ditabuhnya bedug, berarti malam harinya masyarakat sudah harus sholat tarawih, dan keesokan harinya mulai sahur dan menjalankan ibadah puasa. Beragam tradisi dan budaya yang dimiliki masyarakat untuk menambah kemeriahan datangnnya bulan suci Ramadhan.

 

Shares
Share This