Buka Puasa Bersama Dra. Shinta Nuriyah Abdurahman Wahid, M. Hum.

Cirebonmedia.com- Bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila tanggal 1 Juni, Dra. Shinta Nuriyah Abdurahman Wahid, M. Hum. istri dari presiden ke empat¬†K.H. Abdurrahman Wahid atau akrab disebut Gus Dur bersilaturahim dengan masyarakat Cirebon. Bertempat di Hotel Intan lantai dasar, pukul empat dini hari acara yang bertema, ‘Dengan berpuasa kita genggam erat nilai demokrasi dan kebhinekaan’ dimulai dengan khidmat.

Para tamu undangan yang hadir dari perwakilan enam agama, masyarakat sekitar, anak-anak tunanetra, dan anak-anak yatim piatu menunjukan bahwa acara buka bersama ini merupakan perwujudan dari Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu jua. “Beragam agama ada Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, Baha’i. Beragam suku bangsa ada Jawa, Cina, Madura, Batak, Minang, Padang, Dayak, Bugis, Manado, Bali, Sasak, Papua, dan sebagainya. Beragam bahasa, budaya, kuliner, adat istiadat, nasib ada guru, pengusaha, presiden, kuli, tukang beca, dan masih banyak lagi, ada di Indonesia. Meskipun nasibnya berbeda, tapi semua di hadapan Tuhan sama yang berbeda adalah tingkat keimanan dan ketakwaan.”

“Kita semua bersaudara. Tidak pantas berantem. Harus hidup rukun dan damai. Saling menghargai.”
Di tengah acara, saat beliau memberikan sebuah pertanyaan, dari sekian banyak tamu yang hadir ternyata hanya satu siswi sekolah dasar yang berani menjawab pertanyaan beliau, yakni mengenai firman Allah tentang kewajiban berpuasa dalam Surat Al’Baqarah : 183, “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.” Sontak hadirin sekalian berdecak kagum bertepuk tangan kepada siswi yang masih berada di atas podium. Ternyata siswi tersebut berasal dari Kuningan.

Pertanyaan selanjutnya yang dilontarkan beliau kepada seluruh hadirin ialah dengan berpuasa yang sudah dilakukan lebih dari berpuluh kali, tapi apakah sudah menjadi orang yang bertakwa? “Rasulullah bersabda, banyak orang berpuasa, tapi tidak mendapat apa-apa, kecuali lapar dan dahaga. Itu karena apa? Karena hanya berpuasa tanpa tahu makna sebenarnya dari berpuasa. Puasa mengajarkan akhlak dan budi pekerti yang luhur. Mengubah menjadi lebih baik. Kalau ini diimplementasikan, maka selain mendapat pahala, juga menjaga dan merawat keutuhan NKRI, karena NKRI harga mati.”

Pancasila yang dirumuskan oleh para leluhur yang melibatkan sembilan orang panitia dan salah satunya ialah tokoh Islam, tak lain ialah KH. Wahid Hasyim ayahanda Gus Dur merupakan dasar negara Indonesia, falsafah bangsa, pegangan NKRI yang harus diamalkan.
“Pancasila tidak boleh diubah. Harus dijunjung dan dijaga.”

Menapaki sesi akhir acara, moderator mempersilakan dua orang penanya perwakilan dari lelaki dan perempuan. Seorang remaja lelaki bertanya soal fenomena sekarang ini, yakni agama dibenturkan pada politik, sehingga merusak sendi-sendi kehidupan dan seorang remaja perempuan menanyakan perihal apa sebenarnya yang bisa mempersatukan perbedaan agama dan sebagainya serta dengan cara apa? Dua pertanyaan yang terangkum dengan sebuah jawaban dilontarkan beliau, “Sekarang ini agama cuma simbol. Kulitnya saja, karena saking dangkalnya jadi kehilangan pegangan. Ini harus kita sikapi. Mari kita gali kembali nilai-nilai Pancasila dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari demi keutuhan NKRI, karen NKRI harga mati.”

Sebagai penutup acara, yakni doa berbuka puasa bersama dan pembagian kenang-kenangan dari beliau ke beberapa anak yatim kaun dhuafa.

Yohanes selaku ketua panitia menuturkan bahwa acara ini dilaksanakan setiap tahun dengan tujuan bersilaturahim. Ditanya perihal mengapa tema tersebut yang menjadi sorotan, beliau menuturkan, “Pertama, sekarang ini agak terpecah belah, maka perlu perekat. Diingatkan kembali kita sebagai bangsa wajib memelihara persatuan, kesatuan, dan kebhinekaan. Kedua, hari ini bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila, saya kira sangat tepat kalau dihubungkan dengan kenegaraan. Harapannya kita sebagai bangsa jangan sampai terpecah belah, maka selalu setiap hari diingatkan adanya persatuan dan kesatuan. Agama kita berbeda, tapi mempunyai misi¬†yang sama, yaitu membawa damai, membawa persaudaraan kemanapun berada. Jangan sampai perbedaan dijadikan pertengkaran. Perbedaan sebagai kekayaan yang membuat kita semakin beraneka ragam, semakin baik, semakin maju, semakin bermartabat.”

Shares
Share This