Hati atau ‘Anu’mu?

Mengapa menyembunyikan rasa kepada dia yang kau cinta?

Mengapa mencintai dia yang telah memiliki dunianya?

Mengapa memberikan segalanya bila hanya menorehkan sakit sebagai balasannya?
mengapa menunggu sesuatu bila tak ada yang ditunggu?

Mengapa merindu kepada dia yang tak ingin dirindu?

Kurasa jawabannya adalah karena CINTA.

 

Guilty pleasure

Di dalam kamar ukuran 4×6 yang kita sewa, kita duduk agak canggung, kamu duduk di tepi tempat tidur bagian kanan, sementara aku di bagian kiri. Sayup-sayup terdengar suara tv yang gambarnya agak buram mungkin karena di luar hujan deras.

“Di luar hujan, lo gak masalah kan kita istirahat sebentar disini?” kata Keith memecah keheningan.

“Iya gak apa-apa, perjalanan kita lumayan jauh juga, sekalian bisa rebahan sebentar,” jawabku kemudian.

Keith lalu masuk ke dalam toliet, sementara aku memilih berbaring di tempat tidur berseprai dan berselimut putih.

Aku memaksa mataku memejam, namun sulit bukan terganggu karena suara tv yang sumbang, melainkan degup jantungku yang tak menentu.

Lalu Keith keluar dari toilet, dia duduk disamping tubuhku yang memunggunginya. Begitu hening, tidak ada pembicaraan apapun di antara kita.

“Lana, gue keluar dulu ya… gue laper mau mencari camilan,” ujarnya pelan.

15 menit berselang, Keith sudah kembali, ia menenteng snack, air mineral, dan 2 susu kotak.  Dia bilang lapar, tapi kuperhatikan snack maupun minuman tersebut tak ada yang disentuhnya.

“Nanti kalau hujan sudah berhenti, akan datang pelangi,” tutur sembari menengok ke luar jendela.

“Jangan pernah menjanjikan pelangi, kalau gak bisa lo tepati,” selorohku.

Cuaca semakin tak bersahabat, suara petir sahut-menyahut, membuatku takut. Aku menutupi kepalaku dengan bantal dan membungkus tubuhku dengan selimut.

“Lana, gue ngantuk. Boleh gue peluk lo dari belakang?”

Sebelum aku menjawab, Keith memelukku dari belakang. Aroma coklat dari kulitnya tercium, dan degup jantungnya terdengar jelas. Ia membelai rambut sebahuku. Reflek, aku membalikan tubuhku dan memeluknya. Kami saling berpelukan.

Dekapan Keith semakin erat, ia menepuk-nepuk punggungku, kemudian ia mencium lembut keningku. Aku tersentak, kontak membuka mataku.

“Lo goyah?”

Tanpa menjawab, Keith mencium bibirku.

Dalam hati kuberujar ‘guilty pleasure’, sesuatu yang kita senangi atau sukai, tapi dalam hati kecil kita merasa bersalah karena menikmatinya.

***

Terbakar dengan hasrat cinta. Namun tetap memendamnya merupakan hukuman terberat yang bisa kita berikan pada diri kita sendiri.

Semenjak kejadian di kamar berukuran 4×6 itu, bayangkan Keith tak bisa lepas dari pikiranku. Aroma tubuhnya, hangat tubuhnya, belaian lembutnya, kecupan keningnya, dan ciuman bibirnya.

Seperti gadis yang ditinggal kekasihnya yang pergi perang, aku duduk di balkon kosku, memandang langit yang sama sekali tak berbintang.

Membayangkan pertemuan 4 silamku dengan Keith hingga akhirnya kita bersahabat. Sahabat? Begitulah yang Keith anggap, sementara aku? kali pertama bertemu, telah jatuh cinta, begitu saja.

Kalau ditanya mengapa? aku bingung harus menjawabnya apa, karena tiba-tiba saja perasaan itu ada.

Keith sudah seperti rumahku yang memberiku kehangatan dan kenyamanan. Banyak pria yang datang silih berganti dihidupku, mencoba mengisi kekosongan hatiku, tapi… entah tak ada yang bisa menggeser posisi Keith dihatiku. Pria-pria itu pun berlalu begitu saja menjadi hubungan yang sia-sia.

***

Cinta tak berbalas merupakan keadaan yang konyol, inilah yang menjadi penyebab orang yang mengalaminya berperilaku konyol.

7 hari tak ada kabar dari Keith, aku nelangsa. Aku pun tak tahan, aku mengiriminya pesan teks. Konyol, aku melanggar komitmen yang sudah kupegang selama ini!

“Kita harus ketemu,” kataku pendek.

***

Ketakutan terbesarku bukanlah takut tidak bisa mempertahankan. Tapi, aku takut menahan apa yang tidak bisa bersamaku.

Aku dan Keith pun bertemu di sebuah kedai kopi di Selatan Jakarta.

Aku memesan coklat hangat, sementara Keith memasan kopi hitam dengan sedikit gula.

Setelah menyesap coklat hangat, aku membuka obrolan.

“Gue beberapa hari ini gak bisa tidur.”

“Kenapa?” tanyanya.

“Gue terus kepikiran apa yang kita lakuin kemarin…”

Keith terdiam.

“Gue udah gak bisa berpura-pura lagi. Terserah lo mau menganggap apa, mau bilang apa. Gue cinta lo. Bagi gue, sejak 4 tahun lalu, lo bukan sebatas sahabat.”

“Lana… lo sadar sama yang lo bilang?”

“Ya, gue yakin sejak 4 tahun lalu.”

“Lana… lo yakin? Kenapa? Kenapa baru bilang sekarang?”

“Tanpa gue bilang harusnya lo sadar…”

“Gimana gue sadar Lana. Selama ini lo menjalin hubungan dengan si A, B, dan C, dan lo menceritakan kisah lo dengan gamblang sama gue…”

“Karena selama ini gue mencoba memaksa diri gue untuk meyakini gue gak menginginkan apapun dari lo. Tapi saat ini gue perlu jawaban jujur dari hati lo. Gue gak bisa terus-menerus menerka jawaban atas pertanyaan yang gue lontarkan sendiri.”

“Apa yang mau lo tahu Lana?”

“Apa artinya gue buat lo? Apa artinya ciuman itu? Ketika lo melakukan itu dengan gue, apakah hati lo yang menggerakkan atau naluri lelaki lo?”

“Maafin gue Lana… jujur gue gak memprediksi akan begini jadinya… “

“Lo gak perlu muter-muter. Lo cukup jawab dengan lugas.”
“Sebagai lelaki normal ketika dipertemukan dengan kondisi saat itu, pasti susah untuk menghindar. Soal hati, gue memang mau menikah, tapi di sisi lain gue anggep lo spesial dan posisi lo gak bisa digantikan oleh siapa pun.”

“Jawaban yang begitu egois. Namun itu menjawab semuanya,” tandas Lana sembari tersenyum kecut.

“Tapi Lana, gue berharap gak ada yang berubah dari kita. Hubungan kita selama ini lebih indah ketimbang pacaran. Hubungan mengalir yang apa adanya…”

Lana hanya tersenyum tipis dan berujar dalam hati, kamu bodoh Keith, sebentar lagi kamu akan menikah. Jangan pernah menjanjikan pelangi, yang tak bisa kamu tepati.

***

Biodata Penulis

Giattri Fachbrilian Putri. Penulis lahir di Cirebon pada Februari 1990. Memiliki hobi berarung jeram dan mendaki gunung. Menyukai tantangan, tapi phobia ular. Saat ini penulis bekerja sebagai jurnalis di Majalah Men’s Obsession & copywriter freelance. Jika ingin menghubunginya bisa melalui account facebook dengan nama Giatri Fachbrilian Putri, Instagram: @giattri_fachbrillian_putri atau email: giabrilliant@gmail.com. Moto: “Life for nothing or die for something.

Shares
Share This