Dewi, 9 Hari Menaklukkan Jalanan Jawa-Nusa Tenggara Barat

Cirebonmedia.com- Perjalanan yang akan di tempuh dengan waktu normal untuk menempuh jarak antara Cirebon menuju Denpasar sebenarnya hanya membutuhkan waktu sekitar 20 jam saja,  jika riding  secara continue. Ada 2 pilihan jalan yaitu pantura dan selatan. Jarak terdekat sebagai pilihan sebenarnya dari pantura, akan tetapi sesudah kota tuban. Daerah-daerah yang akan dilalui tidak aman jika riding dini hari. Sementara jalur selatan selalu ramai sampai perbatasan solo ngawi. Kota-kota sesudahnya lebih baik siang hari saja. Baik dari pantura maupun selatan 2 ruas jalan itu akan bertemu di sidoarjo. Sesudah kota Sidoarjo sampai denpasar disarankan riding pagi demi keselamatan. Dikarenakan hal itu aku membagi rest point untuk beristirahat di 2 kota. Aku memilih jalur selatan untuk pergi dan jalur pantura untuk pulang agar bisa sekalian menyambangi teman-teman dibeberapa kota yang saya lewati.

Touring jawa bali lombok ini aku lakukan tepat 1 hari menjelang hari lebaran. Alasan kenapa saya ‘riding’ dihari yang semestinya saya rayakan bersama keluarga adalah, aku ini adalah seorang karyawan yang sebagian besar waktunya terikat dengan jam kerja. Akan tetapi kebebasan berfikir membuat saya mengubah keterbatasan menjadi kesempatan. Bukan kah setiap hari juga aku selalu berkumpul dengan keluarga? jika aku tidak melakukannya sekarang mungkin nanti keadaannya sudah berbeda.

Prinsip saya : “lakukan yang saat ini saya bisa”, jika tidak dilakukan sekarang? Kapan lagi?

Rabu tanggal 14 Juli, jam 17:30 aku mulai melaju tipis-tipis, rest point pertama yang aku singgahi adalah kota solo disana seorang teman menunggu. Ternyata arus mudik seperti yang aku perkirakan ramai padat merayap. Dibeberapa tempat sepanjang pantura sempat terjebak macet dan aku tidak bisa memacu motorku, sepanjang jarak cirebon pekalongan baru kali ini ditempuh begitu lama 4 jam yang biasanya cukup 2,5 jam saja.

Tiba dipekalongan aku mempunyai tempat ngopi favorit yaitu SAT samping kiri jalan dimana biasanya selalu  ada saja teman dari kota setempat menunggu untuk bertemu baik kebetulan bahkan tidak sengaja, tapi kali ini aku memang sengaja mampir sekalian berlebaran. Diluar dugaan temanku sudah menyiapkan makan dirumahnya yang tidak bisa saya tolak, dalam hatiku membatin. Celaka malam-malam makan, haduuuuuuuh touring kali ini pasti aku bengkak. Begitu tiba dirumah temanku itu teman-teman yang lain sudah menunggu dan hidangan yang menggugah selera, dan seketika diriku lupa. Hehehe rejeki jangan ditolak. Usai bercengkrama dan menuntas rindu saya berpamitan dengan kawan lama, hampir jam 12:00 malam dan mata sudah mulai menggantuk.

Tapi saya harus tetap berangkat sesuai jadwal. Pantura selarut itu kupikir jalanan sudah lenggang tapi suasana masih seperti sore tadi bahkan semakin ramai. Syukurlah, ucapku dalam hati karena usai kota batang adalah alas roban. Aku biasa lewat hutan ini dini hari pun tetap ramai dan aman. Keluar kendal jalanan mulai lenggang tapi kantuk jadi semakin menjadi. Masuk semarang jalanan sudah mulai sepi. Tidak kuat kebo kesayanganku parkir diindomaret bawen, disini ada posko yang penuh teman-teman pemudik. Hampir 2 jam diriku tertidur disini.

Jam sudah menunjukan pukul 3 pagi.

“waduh” ada perasaan bersalah, ini pastinya membuat temanku menunggu’ di Surakarta. Bergagaslah aku ajak kebo-ku berlari sedikit kencang. Jalanan sepanjang Bawen sampai Solo tidak pernah sepi. Memasuki Salatiga, brrrr… .hiii… udaranya dingiiinn banget, hingga dinginnya menembus jaket rangkap yang ku kenakan, nyaris tembus kulit. Diper3an lingkar selatan kota teringat cerita waktu pertama kali riding ke sini, sambil tersenyum buru-buru saya fokus kembali ke jalanan.

Jam 4.30 pagi,

Diriku sudah masuk kota Kartasura… langsung menjumpai temanku yang sudah menunggu dari jam 12 ditugu lambang kota tersebut. Teman saya  seketika  berdiri menyambut  dan membuka sapa, riang sekali. Namun kusambut senyum dengan perasaan bersalah. ‘Ya sudah tidak apa, wong namanya ngantuk koq, jangan dipaksa,’guraunya, yang saya jawab dengan mengangguk, syukurlah teman saya tidak marah, sebab biasanya cirebon solo dapat di tempuh hanya 6 jam saja..mungkin juga kasihan akan raut muka memelas diriku setelah berjuang dari jebakan macet dan kekenyangan.

Jam 5.30 pagi,

Sampailah dirumah teman. Rasa kantuk yang belum tuntas kembali datang menyeruak tatkala melihat kasur yang terlihat begitu empuk yang memang telah disiapkan untukku, terlihat amat menggoda, sampai-sampai teman yang menawarkan sarapan kuabaikan dan langsung roboh dikasur tidur pulas dibawah selimut.

Jam sudah diangka 9:00 pagi, hari 1

ketika diriku membuka mata. “huffh..” sedikit menyesal karena seharusnya sesuai planing jam 7 pagi saya sudah lanjut menuju Sidoarjo, “tapi tak apalah Solo – Sidoarjo khan sekitar 5 jam, masih bisa santai..santai..”, bhatin saya untuk menenangkan dan menghibur diri.

Usai mandi, teman saya sudah menyiapkan hidangan, kebetulan teman saya seorang nasrani . Sebenarnya dihari terakhir ramadhan ini aku ingin tetap menjalankan ibadah puasa seperti biasa, akan tetapi semua schedule diluar dugaan mau tidak mau aku harus memilih. Jika saja jadwalku sesuai sebenarnya aku masih bisa tetap berpuasa. Sambil makan kami berbincang asyik hingga tidak terasa waktu begitu cepat berlalu rupanya.

Jam 12 siang, hari 1

Aku dilepas dari Solo menuju Ngawi, niatku akan gas-pool untuk mengejar waktu, namun aku juga menyempatkan diri untuk berfoto-foto di tugu perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur, dan sempat berkenalan dengan para pemudik yang juga sedang mengambil foto. Sekitar 15 menit mengabadikan diri di tugu perbatasan tersebut, lalu kembali diriku untuk melanjutkan perjalanan.

Baru melaju sekitar 30 menit melewati hutan Mantingan di Traffic light kota Ngawi, rupanya seorang teman telah menunggu duduk dengan manisnya, teman dari Club Beat yang tak bisa kutolak untuk mengajak sekedar minum teh, jadilah di Ngawi bertemu dengan beberapa teman lain dan berbincang cukup lama.

Jam 2:30 siang, hari 1

Kembali diriku dilepas menuju Nganjuk, sedikit menyesal menyusup dibalik hati, maksud hati ingin mampir di wisata Budha Tidur di Mojokerto namun harus ditangguhkan. “Tapi tak apalah masih banyak waktu…” Dalam senyum aku menarik gas agak kencang, melewati Nganjuk lalu Jombang dan hari mulai gelap ketika sampai di Mojokerto. “Asyik” menikmati senja yang begitu cantik tanpa sadar aku kehilangan arah, seharusnya dipersimpangan sebelumnya ambil Kanan, buang banyak waktu jika aku harus putar arah meskipun jika mengikuti jalan akan menjadi lebih jauh dan berputar-putar. Sedikit khawatir aku bertanya pada pengendara disebelah saat berhenti dilampu merah, beruntung pengendara itu begitu baik menawarkan diri untuk mengantar ke tempat tujuan , dengan rasa tidak enak buru-buru aku menolak menginggat jarak dari tempat saya sekarang ini ketempat yang saya tuju memakan waktu sekitar 1 jam. Akan tetapi pengendara itu tidak berkeberatan sama sekali dan meminta saya mengekor dibelakangnya.

Tiba di alun-alun Sidoarjo pengendara itu menemaniku sampai teman-temanku datang. Sambil mengucap banyak terimakasih kami saling bertukar nomor telepon, berharap jalinanan persahabatan tetap terjaga. Dialun-alun Sidoarjo bersama teman-teman menikmati malam, lagi-lagi tak bisa menolak untuk menghabiskan hidangan. “Busyet sudah mati-matian mempertahankan berat badan, kini menyerah dan mulai pasrah saja, dan mulai menikmati liburan.”

Usai makan, teman-teman mengajakku ke Tretes(wisata pegunungan Pasuruan), hingga jam 12 malam kami saling bertukar cerita dalam canda dan tawa hangat. Diselimuti dingin nya Tretes, diriku terlelap dengan balutan hati senang.

Jam 9 pagi,

Usai sarapan dan berfoto-foto di kawasan candi dan view tretes. Dan isi bensin walaupun tangky masih agak penuh. saya kembali dilepas diperbatasan Pasuruan menuju Probolinggo, melewati kota Probolinggo aku sempat istirahat sejenak di mini market untuk minum air dingin karena siang itu matahari begitu terik, hauuss. Sambil duduk diposko yang disediakan aku sembunyi-sembunyi untuk minum menggingat saat itu masih hari terakhir puasa. Didepanku beberapa langkah juga duduk seorang laki-laki yang sedang menunggu istrinya. Dia melihat kearahku yang langsung aku sambut dengan anggukan dan sedikit senyuman, tapi dibalas dengan tatapan yang tidak bersahabat oleh bapak tersebut. Nyengir kecut dengan tatapan terebut dan rasa tidak nyaman dengan suasana tadi, membuatku ingin buru-buru segera beranjak, dan “gubrakkk..” tidak hati-hati helm yang saya pegang terlepas dan jatuh. Membuat suasana semakin tegang, beberapa mata tertuju kepadaku, tidak menunggu lama lalu tanpa basa basi aku langsung ambil ancang-ancang tancap gass sebisanya…wush…

Ahhh…..Lega rasanya memasuki kota Kraksan, sebentar lagi Paiton, lalu Situbondo kemudian Banyuwangi.

Image By: Dewi
Image By: Dewi

Di Situbondo aku sempatkan singgah disebuah rest area yang kemudian menjadi daftar tempat rest favoritku saat touring .tepatnya di Rest Area Utama Raya Banyu Glugur Situbondo disini sangat lengkap selain Rest area, coffee shop, restaurant, mushola, supermarket, hotel, SPBU, dan toilet. Toilet-nya pun tersedia VIP, bisa mandi air panas saat badan pegal-pegal.

Jarak Sidoarjo – Ketapang sekitar 6 jam. Sambil menikmati kota listrik-Paiton bilamana jika kebetulan kita melewatinya saat malam hari, maka akan terlihat indah sekali. Eitt tapi lupakan saja ya, jangan pernah lewat dimalam hari disini, jangankan malam, siang saja sepi. Di depan sana sesudah Banyuwangi ada Taman Nasional Hutan Baluran sepanjang 30 kilometer. Baru sesudah itu sampai di Pelabuhan Ketapang.

Sepanjang Banyuwangi banyak sekali tempat wisata , kapal-kapal nelayan, hutan bakau tak kalah indahnya. Jika sempat dan ada waktu ke Banyuwangi masuklah ke Taman Nasional Hutan Baluran, dan objek wisata Pasir Putih, juga luangkan waktu untuk berfoto di wisata Watu Dodol.

Bersambung…

Shares
Share This