Hai Orang Tua, Menjelang Tahun Ajaran Baru Tanyakanlah Pada Dirimu

Apa kekuatan atau bakat yang menonjol kalian para orang tua amati dari anak? Pertanyaan tersebut merupakan salah satu pertanyaan yang dapat direfleksikan pada diri sendiri menjelang tahun ajaran baru. Tahun ajaran baru berarti awal baru bagi anak untuk kembali belajar di sekolah atau di jenjang yang lebih tinggi. Tahun ajaran baru juga berarti kesempatan bagi anak untuk mamasuki dunia baru, sekolah, jurusan, guru, dan teman-teman baru, serta topik-topik dan pengetahuan terbaru untuk dipelajari.

Kita perlu mengapresiasi kekuatan anak menjelang kegiatan belajarnya secara formal setahun ke depan. Tiga pertanyaan berikut dapat membantu kita mengenal kekuatan anak, harapan sebagai orang tua, serta bagaiman aorang tua dapat menjadi penghubung antara keduanya.

Apa Sebenarnya Kekuatan atau Bakat Menonjol yang Diamati dari Anak?

Anak mempunyai dorongan secara alami untuk belajar, yang diekspresikan oleh minatnya terhadap suatu topik. Menggeluti topik tersebut berarti melatih sebagian dari delapan kecerdasan majemuk terkait yang telah Tuhan anugerahkan kepada anak. Komposisinya tentu unik, yang menjadikan setiap anak istimewa. Itulah sebabnya, mengenali kekuatan dan bakat anak yang menonjol menjadi kunci untuk dapat mengenali bagaimana cara belajar yang sesuai dengan anak.

Dengan mengenali bagaimana cara anak belajar, oarang tua dapat memfasilitasi proses belajar anak dengan optimal di tahun ajaran baru ini, dari memilih sumber belajar yang lebih menarik untuk anak, sampai mengenalkan anak pada media pembelajaran yang sesuai dengan kecerdasan majemuknya yang menonjol.

Apa Cerita yang Orang Tua Ingin Dengarkan dari Anak tentang Pengalamannya Belajar?

Orang tua pastik mempunyai harapan yang digantungkan kepada anak, baik selama sekolah, bahkan saat mereka menempuh jenjang perkuliahan. Namun harapan orang tua manakah yang juga betul-betul berarti bagi anak? Mungkin saat penerimaan rapor, orang tua lebih sibuk membicarakan nilai dan rata-rata kelas.

Ada dua hal yang belum tentu tepat saat kita menilai anak dari angka-angka yang tertera di buku rapornya. Pertama, angka tidak selalu menggambarkan pengalaman belajar anak, apalagi saat evaluasi belajar anak hanya mencerminkan ketidakmampuan mereka, alih-alih memberi tahu kita tentang hal apa yang paling anak kuasai. Kedua, membanding-bandingkan anak dengan anak lain termasuk melalui nilai yang berarti tidak mengakui bahwa setiap anak istimewa. Lebih baik membandingkan hasil belajar anak saat ini dengan hasil sebelum-sebelumnya, dan itu tidak cukup dengan sekedar membandingkan dua angka.

Oleh sebab itu, bayangkanlah sebuah cerita menarik yang akan diceritakan anak saat kenikan kelas. Bukan karena ia banyak memperoleh nilai sembilan, atau karena ia meraih juara umum, tetapi tentang pengalaman belajar selama setahun. Topik apa yang paling menantang dan membuat anak berusaha keras untuk mempelajarinya? Hal apa yang membuatnya mengerjakan suatu proyek dengan serius? Cerita tentang ini lebih penting dan lebih emosional untuk anak, ketimbang sekedar membahas angka-angka.

Apa Pengalaman Paling Berkesan yang dapat Orang Tua Bagi Kepada Anak?

Ingat kembali pengalaman kalian orang tua belajar selama bersekolah. Apa pengalaman belajar yang paling berkesan yang dapat orang tua bagikan kepada anak sebagai inspirasi?

Pembelajaran formal pun dapat menyediakan batu loncatan untuk mensinergikan kekuatan anak dan harapan orang tua. Terutama saat anak memilih sekolah, jurusan, bahkan fokus belajarnya saat kuliah. Saat orang tua menyadari bahwa setiap anak itu istimewa, kita sebagai orang tua pun juga istimewa, dan pernah menjalani masa-masa belajar sebagai seorang anak.

Ingat saat orang tua harus memilih sekololah, jurusan atau bidang studi yang dipilih saat kuliah. Apakah pilihan tersebut sesuai dengan minat, kekuatan dan bakat menonjol yang dimiliki orang tua? Ataukah saat orang tua merasa ditekan dan terpaksa menghabiskan tahun-tahun belajar hal yang tidak menarik bagi orang tua? Ketika orang tua menyadari betapa kita butuh kebebasan dan kendali atas proses belajar orang tua, anak juga berhak mandiri dengan memiliki kebebasan tersebut.

Ingat dan obrolkan dengan anak bagaimana pengalaman belajar Ayah Ibu berkaitan dengan karier saat ini, dan pengalaman belajar manakah yang berkontribusi besar pada arah karier yang ditempuh orang tua saat ini. Dengan ini, anak dapat belajar bahwa suatu karier dapat dijalani dengan memilih terlibat dalam pengalaman belajar spesifik. Entah dengan mengikuti pembelajaran formal, memilih tempat magang, memutuskan untuk kursus, maupun mencari sendiri sumber-sumber belajar yang memudahkan anak fokus menekuni dan mengembangkan bakatnya.

Penulis : Afip Maulana

Shares
Share This