BUKAN SEKEDAR KOTA PARA WALI & TAHU GEJROT…

3952324945_97a8e1bf71_zok
Apa yang pertama kali anda bayangkan ketika mendengar kota Cirebon? Dari sekian banyak orang saya temui, begitu mendengar nama Cirebon, ingatan mereka lantas tertuju kepada wisata religi Astana gunung Sembung atau lebih dikenal pemakaman Sunan Gunung Jati. Ingatan kedua biasanya adalah kulineran khas Cirebon paling terkenal, Tahu Gejrot, ingatan ketiga barulah pada wisata sejarah keraton Kasepuhan dan Kanoman, Beberapa orang juga lantas terkenang batik mega mendung lengkap dengan pusat batiknya, Trusmi.

Benarkah Cirebon hanya berputar pada wisata religi, wisata keraton, batik Mega mendung dan tahu gejrot? Dari dunia kulineran saja, Jika anda tinggal sedikit lebih lama di Cirebon, sesungguhnya anda akan menjumpai banyak kulineran khas Cirebon yang tak kalah merakyat dari tahu gejrot. Cirebon juga memiliki Empal Gentong, Docang, Nasi jamblang, Nasi lengko, Pisang gepeng dan Tahu petis yang sepertinya tak pernah saya jumpai di kota lain, ini berbeda dengan tahu gejrot yang lebih mudah dijumpai dikota-kota besar seperti Jakarta. Kulineran Cirebon yang bisa terlihat dikota-kota diluar Cirebon adalah empal gentong, sementara kulineran lainnya hanya bisa terlihat jika ada semacam acara pesta rakyat seperti Pekan Raya Jakarta, itu pun biasanya hanya beberapa jenis saja.

Cirebon adalah kota pesisir, tapi sayang sekali potensi wisata baharinya terkesan begitu diabaikan pemerintah setempat. Ketika saya kecil dulu, saya masih sempat melihat areal wisata pantai Ade Irma, tetapi pada tahun 2012 saat saya berkunjung ke areal wisata itu lagi sepertinya tempat tersebut sudah tak berfungsi sebagai daerah wisata, ini terlihat dari pintu masuknya yang sudah tampak tidak karuan. Saya sempat mengunjungi pelabuhan Kejawan yang mulai ramai dikunjungi wisatawan domestik, tempatnya potensial tapi masih sangat berantakan dan jelas tidak dikelola secara profesional. Sesungguhnya, Cirebon sangat mungkin membuat area wisata pantai yang layak seperti Ancol untuk menarik wisatawan asalkan ia dikelola dengan baik dan profesional tentu saja.

Dari sudut seni & budaya, Cirebon sebenarnya tak kalah dengan kota lain, Cirebon tak cuma memiliki acara “Muludan”, Acara ritual tahunan yang selalu ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara, sebuah ritual Keraton yang mungkin hampir mirip dengan acara “Sekaten” di Yogyakarta itu.
Dari seni tari saja, Cirebon memiliki lumayan banyak, Kota udang tercatat memiliki seni tari sebagai berikut :

  1. Tayuban
  2. Jaran Lumping
  3. Genjring Rudat
  4. Angklung Bungko
  5. Tari Klasik
    Tari klasik ini menurut Sdr. Muhfajri, penulis blog aneka ragam budaya Cirebon, Secara garis besar terdapat 3 jenis :
    A. Tari Tradisional (tari Baksa, Sintren, Lais dsb)
    B. Tari Klasik Cirebon (tari topeng, Ludaya, lengep, gatot kaca, dsb.)
    C. Tari Kreasi Modern (tari Merak, Kijang, Kupu kap, dsb.)
  6. Tari topeng Tumenggung Magang diraja dan Jingganaanom gaya Losari,
  7. Sampyong
  8. Buroq
  9. Singa Depok
  10. Gong renteng

Dan kemungkinan masih terdapat jenis tari-tarian lain yang luput dari catatan saya.

Cirebon juga memiliki kesenian Tarling yang memadukan seni musik, Tari dan drama. Cerita dalam Tarling banyak mengadopsi cerita-cerita yang berkembang ditengah masyarakat. Pada saat saya kecil dulu, saya masih sempat menikmati Seni tradisional satu ini baik melalui radio, kaset tape bahkan menyaksikan pertunjukan live nya secara langsung dilapangan Kejaksaan. Tarling sudah dikenal sejak tahun 1930 an.

Ketika masih tinggal dikampung yang terletak tak jauh dari perbatasan Cirebon – Kuningan dulu, saya dan para tetangga kerap mendengarkan Tarling pada malam hari, kami duduk di bale-bale teras rumah dengan suasana temaram diterangi bias cahaya rembulan, menyeruput secangkir kopi atau teh tubruk, berkawan Rengginang atau Opak.

Masyarakat Cirebon dulu sangat gandrung dengan kesenian Tarling, hanya saja seiring amat populernya musik dangdut, pengertian Tarling kerap bergeser pada pertunjukan musik Tarling dangdutan saja, bahkan yang lebih menyedihkan sebutan Tarling sering hanya diartikan sebagai organ tunggal yang biasa dipakai menghibur masyarakat hajatan. Kemunculan Tarling dangdut Cirebonan sebenarnya tak bisa diabaikan begitu saja, Tarling Dangdut pun memiliki peran bagi perkembangan budaya Cirebon dan masyarakatnya, ini disebabkan karena Tarling dangdut Cirebonan mempertahankankan bahasa Cirebonan yang memiliki ciri khasnya sendiri, artinya syair lagu yang digunakan adalah bahasa Jawa Cirebonan. Jika masyarakat Jawa tengah menjaga romantisme kedaerahannya dengan kerap memutar gending Jawa lengkap dengan kidung Sinden bersuara merdu, Masyarakat Sumatera barat memutar lagu-lagu Minang, orang Batak mendengarkan lagu Batak, Orang Cirebon ditanah rantau juga kerap memutar musik tarling dangdut sebagai pengobat rindu tanah kelahiran.

“Manuk Kepodang…bulune kuning
Sing di adang-adang rabisa ketemu maning
Kebayang-bayang.. keimpi-impi
Turu bli bisa lali kelingan pujaan hati
Gubuk duwur ning tengah-tengah sawah
Pancenen temen wong demen urung kelakon
Rindu-rindu..wong sing di tunggu-tunggu
Pribasa sampe sewindu ahire ketiban nafsu”

Dari syair lagu “Manuk Kepodang” dipopulerkan Aas Rolani ini, mungkin sedikit bisa diketahui bahwa bahasa Cirebon menggunakan bahasa Jawa berbeda dengan orang-orang Jawa tengah seperti yogyakarta, Solo, Jawa timur seperti Surabaya dan sekitarnya.

Basa Cerbon memiliki keunikan tersendiri, Namun begitu orang Indramayu dan Tegal umumnya bisa memahami bahasa daerahnya satu sama lain meski aksen masing-masing daerah sudah berbeda, ini akan lain hal jika orang dari ketiga kabupaten itu sudah menginjak Yogyakarta, perbedaanya sudah sangat jauh sekali. Bahasa Cirebon terkenal dengan sebutan Jawareh, Jawa sawareh Sunda sawareh alias Jawa separuh Sunda separuh. Jika kita mau menelisik ke pelbagai daerah di Cirebon kita juga akan menemukan aksen yang berbeda. Pasar tradisional adalah sebuah tempat paling banyak berinteraksinya orang Cirebon dari berbagai wilayah, dari pusat jual beli ini kita akan dengan mudah menyaksikan betapa bahasa Cirebon begitu kaya dengan aksen daerahnya masing-masing, Orang-orang Plered memiliki aksen khas dalam berbahasa, mereka memiliki langgam berbeda dengan orang Cirebon kota. Agak kepinggiran daerah Kuningan, berbatasan dengan sekitar daerah Ciperna ke arah Kuningan, kita akan menjumpai sebuah Kecamatan bernama Beber, seluruh kecamatan ini meskipun masih termasuk wilayah Cirebon, Masyarakatnya semua menggunakan bahasa Sunda, mungkin ini disebabkan karena daerah ini persis berbatasan dengan Kabupaten Kuningan yang berbahasa Sunda, Bahasa Sunda digunakan orang Beber agak terdengar kasar bagi orang Sunda daerah lainnya termasuk orang Kuningan sendiri. Umumnya orang-orang di daerah Beber selain berbahasa Sunda juga menguasai bahasa Jawa Cirebonan, Minimal mereka lebih fasih berbahasa Jawa Cirebonan dari pada orang Kuningan yang juga berbahasa Sunda, Orang Cirebon kota pada umumnya juga mengerti bahasa Sunda, Meski sebagian mungkin tak fasih berbicara minimal mereka mengerti apa yang diucapkan .

Didunia intelektual dan literature, Kota Cirebon sekitar abad 17 tercatat pernah menjadi tempat berkumpulnya para ahli dari kerajaan seluruh nusantara untuk menggarap kitab sejarah kerajaan-kerajaan nusantara. Pertemuan para intelektual pada zamannya itu diketuai oleh pangeran Wangsakerta yang merupakan putera Panembahan Girilaya yang juga merupakan adik dari Sultan Kasepuhan dan kanoman. Pertemuan dihadiri tak cuma para ahli dalam negeri, tetapi juga menghadirkan ahli-ahli dan peninjau dari mancanegara seperti Trengganu (malaysia) , Tumasik (Singapura), Mesir, Arab, India , Srilangka, Benggala, Campa, Cina, dan Ujung Mendini (Semenanjung Malaysia). Proyek menghabiskan waktu hingga 21 tahun lebih itu menghasilkan sekitar 28 kitab sejarah, sedikit diantaranya adalah kitab Rajyarajya I Bhumi nusantara, Pustaka Pararatwan, dan Pustaka Negarakretabhumi. Dari fakta sejarah ini kita bisa melihat bahwa sesungguhnya Cirebon pada masanya adalah sebuah negara yang pernah sangat diperhitungkan dalam dunia intelektual. Pangeran Wangsakerta dari Cirebon, bahkan menurut Sastrawan dan Sejarawan Ayat Rohaedi dikatakan … Mungkin merupakan orang Indonesia yang pertama kali berusaha menyusun sejarah bangsanya selengkap mung­kin. Untuk keperluan penyusunan “buku induk” sejarah itu, ia melaku­kan hal-hal positif yang bahkan menurut penilaian orang Indonesia se­karang masih terlalu “ilmiah” sehingga diragukan.

Seperti tak mau ketinggalan dari para nenek moyangnya abad 17 lalu, Saat ini, kaum muda Cirebon juga banyak yang bergiat memajukan seni dan kebudayaan Cirebon, dilingkup kesusasteraan salah satunya berdiri komunitas Rumah Kertas, Komunitas satu ini kerap mengadakan acara perhelatan puisi & mengaji sastra. Komunitas Rumah Kertas muncul dari kegelisahan sekelompok anak muda yang merasa geliat kesusteraan Cirebon dirasa sangat kurang, kalau pun ada itu mereka anggap jarang sekali. Komunitas yang 1 Oktober 2014 nanti tepat berusia 2 tahun itu setiap bulan mengadakan bedah buku atau diskusi ringan, pemutaran film dan tentu saja fokus utamanya adalah kegiatan-kegiatan satra. Anak-anak muda ini setiap minggu juga mengisi kolom sastra disebuah koran daerah, Radar Cirebon. Setiap mengadakan acara, komunitas Rumah Kertas membiayai semua dari kantung sendiri, artinya hasil kolektif para anggotanya sendiri, ini membuktikan bahwa kreatifitas anak muda Cirebon tak terhenti hanya karena persoalan dana, Mereka adalah anak-anak muda yang tak cengeng dan manja minta diperhatikan oleh pemerintah, Seorang anggota Komunitas Rumah Kertas pernah menulis sesuatu yang menarik, “Hidup dan hidupilah puisi, jangan menumpang hidup darinya.” Kata-kata ini bisa jadi cukup mewakilkan alasan mengapa Komunitas Rumah Kertas itu berdiri. Dibidang Cinematography, Cirebon juga sebenarnya tak kalah dengan kota lain semisal Jakarta, Bandung atau Yogyakarta, di Kota ini ada sekelompok orang yang bergiat memproduksi film pendek tentang budaya lokal Cirebon yaitu Cakra Comunity, terakhir saya sempat melihat mereka tengah menggarap film dokumenter tentang permainan tradisional “Gobak sodor”. Komunitas dikomandani seorang penulis produktif, Arief Gustian, itu tak cuma memproduksi film-film dokumenter, mereka juga banyak sekali memproduksi film-film indie yang cenderung idealis, tapi sayangnya film-film genre ini masih sangat sulit diterima masyarakat karena memang bukan tergolong film yang mudah dicerna. Ada yang menarik dengan Arief Gustian, Pria kelahiran 1960 lalu ini sesungguhnya bukan terlahir di bumi dimana tahu gejrot berasal, Arief Gustian adalah pria kelahiran Sumatera Selatan, namun kiprahnya di dunia kreatif kota Cirebon tak kalah dengan anak pribumi kota udang sendiri. Saya tiba-tiba teringat dengan pepatah Minang yang berujar “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”, Tak cuma lewat film dokumenter, pengusaha kedai kopi dan pencucian mobil ini juga menuangkannya pemikiran budaya lokal lewat novelnya yang telah terbit, Isim dan juga karya tulisnya yang lain.

Selain “Muludan”, sebenarnya Cirebon juga memiliki acara festival tahunan di isi dengan banyak pertunjukan seni dan budaya. Masyarakat Cirebon masih banyak menggelar acara / ritual bersifat tradisional baik secara individual bersifat kekeluargaan atau kelompok masyarakat, acara ritual melibatkan kelompok masyarakat bisa kita lihat dalam upacara Nadran. Upacara Nadran dilakukan oleh sekelompok nelayan dengan maksud mensyukuri hasil tangkapan ikan dan berdoa agar tak mendapat rintangan dan marabahaya saat melaut. Upacara Nadran diawali dengan mengarak “Ancak” semacam replika perahu berisi “Endas Kebo” atau kepala kerbau dan bermacam sesajen dan makanan tradisional lainnya ketempat-tempat tertentu baru kemudian di larung ketengah laut. Prosesi mengarak replika perahu itu juga diiringi musik dan kesenian tradisional seperti Genjring, Tarling, Dll. Secara Individual, Masyarakat Cirebon masih banyak mengadakan acara bersifat tradisional seperti Singa Depok yang kerap diadakan untuk merayakan hajat Sunatan. Kesenian Singa Depok ini sendiri sebenarnya tidak hanya ada di Cirebon, banyak daerah seperti bandung, Subang dan masyarakat Jawa barat lain yang melestarikannya.

Dari sekian banyak ritual tradisional Cirebon, yang paling menarik menurut saya adalah tradisi “Tawurji” yang dilakukan setiap bulan Safar oleh anak-anak kecil di pasar-pasar Cirebon. Tradisi ini erat kaitannya dengan sosok legendaris sekaligus kontroversial dalam penyebaran Islam di tanah Jawa yaitu Syekh Siti Jenar, Syekh Siti Jenar adalah salah satu tokoh terkenal selain Wali Sanga, Ia adalah seorang tokoh yang ajarannya tentang Manunggaling Kawula gusti dianggap berbahaya untuk ajaran Islam yang saat itu baru saja berkembang di tanah Jawa. Oleh para Wali, Nasib Syekh Siti Jenar yang mulai memiliki banyak pengikut ketika itu, Setelah melalui musyawarah akhirnya di Eksekusi mati. Eksekusi ini tentu saja melibatkan Sunan Gunung Jati yang merupakan satu-satunya anggota Wali Sanga yang merangkap seorang Sultan. Syekh Siti Jenar konon di eksekusi pada bulan Safar, dari sebuah versi konon pula beliau mempunyai banyak anak yatim yang di asuhnya, Ketika Syekh Siti Jenar di Eksekusi otomatis semua anak asuhnya menjadi terlantar, Para Wali sembilan memutuskan agar masyarakat Cirebon ikut berperan memberi perhatian dengan menyantuni anak Yatim tersebut pada bulan Safar, persis pada bulan kematian Syekh Siti Jenar. Jika anda mengunjungi pasar tradisional Cirebon pada bulan Safar, kemungkinan anda akan menjumpai anak-anak kecil yang tiba-tiba datang mendoakan anda dan mengucapkan “Wur tawur Ji..Tawur..Selamet dawa umur..”. Kisah Syeh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang, selain berkembang dengan banyak versi juga begitu banyak dibumbui hal berbau mistis seperti halnya kepercayaan kebanyakan masyarakat Cirebon. Terlepas dari persoalan itu, Anak-anak yatim dan fakir miskin memang terlihat sangat diperhatikan oleh Sunan Gunung Jati, Pesan sang pemimpin agung Cirebon ini bisa kita lihat di Masjid Sang Cipta Rasa Kasepuhan yang berbunyi “Ingsun titip Tajug lan fakir miskin..” Pesan Sunan Gunung Jati itu tak Cuma terdapat di Masjid Sang Cipta Rasa, tetapi juga bisa ditemukan dipelbagai tempat di Kota Cirebon, Pesan moral sang Sunan memang sangat pendek tetapi memiliki makna dalam bagi masyarakat Cirebon, sebuah daerah pesisir yang bukan sekedar kota para wali dan tahu gejrot, tentu saja.
Depok 17 Agustus 2014
(1.)Seni tari Klasik dikutip dari http://muhfajrii.wordpress.com/
Penulis adalah pecinta buku dan Travelling
Bermukim di Depok-Jawa barat.

Oleh: M.Ruddy

Image By: Google.com

Shares
Share This