Tradisi Membuat Kue Apem Di Bulan Safar

Sumber : prasmanan.com/resep-kue-apem-balik/

Sepertinya masyarakat Kota Cirebon sudah tidak asing lagi dengan yang namanya Kue Apem. Biasanya, Kue Apem dibuat pada saat perayaan bulan Safar. Ada yang tau kenapa bulan safar identik dengan Kue Apem? Yuk simak ulasan berikut, asal usul kue Apem di bulan Safar.

Kue apem adalah kue yang dibuat dari tepung beras yang didiamkan selama semalaman dan dicampur dengan tape, cara pembuatan Kue Apem yaitu dikukus. Bentuk Kue Apem sendiri berbentuk bulat mirip dengan serabi namun sedikit lebih kecil dan sedikit tebal. Biasanya Kue Apem dihidangkan dengan kinca yang terbuat dari gula merah dan diberi parutan kelapa.

Sumber : pinterest.com

Sejarahnya, Tradisi membuat Kue Apem yang dibuat di bulan Safar itu bermula dari kebiasaan orang – orang Keraton yang biasa membagikan Kue Apem kepada masyarakat sekitar Keraton menjelang peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW atau sering disebut Muludan tepatnya di bulan Safar.

Sumber : gramho.com/apem-kinca/

Dahulu kala Kue Apem dibawa oleh Ki Ageng Gribig selepas pulang dari perjalanan Haji, Beliau membawa 3 buah oleh – oleh, namun karena terlalu sedikit akhirnya dibuat lah Kue Apem oleh sang istri dan dibagikan kepada masyarakat sekitar.

Makna dari pembuatan Kue Apem sendiri sebenarnya sebagai simbol dari sodaqoh amaliyah yang merupakan salah satu amanah Sunan Gunung Jati yaitu “ingsun titip pakir miskin lan tajug” (saya titipkan kaum fakir miskin dan masjid). Selain itu makna Kue Apem juga sebagai penolak bala, serta sebagai simbol kebersamaan yang dijadikan tradisi hingga saat ini.

Tradisi membuat Kue Apem disebut ngapem oleh masyarakat Cirebon. Biasanya masyarakat setiap hari bergantian membuat Kue Apem, dan akan dibagikan kepada tetangga, maupun orang yang membutuhkan secara gratis. Tradisi ini sudah menjadi turun temurun sejak zaman dahulu dan sudah menjadi warisan leluhur yang harus di lestarikan. Selain makna simbolis dari pembuatan Kue Apem di bulan Safar, kita juga bisa mengambil nilai moral dari tradisi ini yaitu pentingnya berbagi dan bersilaturahmi antar sesama sebagai simbol makhluk sosial.

Sumber : Wikipedia

Shares
Share This