Menjadi Lebih Kearab-araban

Melihat kicauan dari akun twitter @NUGarisLucu yang menyinggung mengenai Pubertas Beragama membuat saya teringat akan masa hijrah yang pernah saya lalui dulu.

Bermula dari putus cinta, merasa kosong dan mencari bahan bacaan yang dirasa semua isi buku berbicara pada saya, mengenai haramnya menjalin hubungan pra-pernikahan, semakin merasa tercambuk, semakin rajin mencari referensi mengenai keberagamaan melalui bacaan dan tontonan di youtube dan saya merasa cukup akan semua itu. Saya berani mendakwahi orang lain dengan ilmu saya yang saat itu saya rasa sudah mumpuni. Dakwah yang hanya bermodalkan buku dan tontonan ditambah mengutip satu dua ayat al-Quran dan hadits yang bahkan hanya dibaca artinya tanpa saya sampaikan lafadz aslinya karena ketidak mampuan saya melafalkannya pada saat itu. Materi yang saya sampaikan pun hanya seputar Menghindari zina dan Berpakaian Syar’I.

Dengan lantang saya menyuarakan kedua hal itu dan tentu diikuti dengan gaya hidup sehari-hari seperti tidak bersalaman dengan laki-laki (termasuk guru), menghapus semua foto yang mempertontonkan wajah (karena takut akan penyakit ain), dan tidak lupa dengan atribut keagamaan seperti kerudung panjang, ciput, kaos kaki, hingga manset. Bahkan saya ingat mengenai hijab punuk unta yang katanya perempuan yang mengenakan hijab punuk unta bagaikan berpakaian tapi telanjang, Ia tidak akan mencium bau surga walaupun tercium dari jarak sekian hingga sekian, sebagai wanita yang ingin menjadi bidadari surga, saya pun mengikutinya. Menguncir rambut sependek mungkin sampai tidak memberikan tonjolan pada bagian belakang kepala. Waduh kalo diingat bikin saya mesem-mesem malu.

Seiring berjalannya waktu, saya bertemu dengan seorang kawan yang mana dia berlatar belakang santri. Tanpa saya minta, dia selalu membagi ilmu yang dia miliki. Menyampaikan seputar Islam dengan cara yang lembut, mulai dari tauhid, fiqh, sejarah dan tak lupa dengan nahwu shorof yang pada saat itu saya hanya bisa Iya, oh gitu, ini kenapa ini? kebingungan. Tapi dia tetap mengajari saya dengan cara khasnya seolah-olah saya santriwati yang butuh bimbingan Kyainya. Dan karena semangat yang terpancar darinya, saya kembali mengaji. Namun tidak hanya melalui buku, youtube dan televisi, saya mendatangi guru ngaji masa kecil saya.

Mengaji di langgar, diawali dengan membaca Al-Quran dilanjutkan dengan kitab Safinnah yang dulu saat SD saya pelajari, saya kembali memulai dari awal ketika saya SMA. Dua kali harus mengkhatamkan Safinnah sebelum bisa melanjutkan ke kitab Sulam At-Taufiq dan begitu seterusnya. Merasa tentram karena bisa kembali mengaji seperti masa kecil membuat penyesalan terlintas di benak saya kenapa saya harus berhenti ngaji dulu? Kenapa saya belajar hal-hal dasar justru di masa remaja bukan saat anak-anak dulu?, hal itu yang membuat saya untuk tetap menjadi santri kalong meski teman-teman mengaji saya rata-rata anak SD.

Semakin hari saya semakin merasa kecil, merasa bahwa diri tidak ada apa-apanya dalam beragama terlebih saat saya memasuki dunia perkuliahan. Saya yang masuk ke Institut Agama Islam Negeri bertemu dengan lebih banyak teman-teman yang juga nyantri dan pernah nyantri di pesantren-pesantren besar di kota ini. Dulu yang merasa sudah paling sempurna dan gampang sekali menyalahkan orang lain yang tidak sependapat merasa terpukul pada keterbukaan dan pengetahuan teman-teman yang lain akan keberagamaan. Mereka yang tahu banyak justru sangat tawadhu akan ilmu yang dimiliki. Mereka sadar bahwa semakin mereka tahu hal baru, semakin bodoh diri mereka karena ketidak tahuan selama ini.

Dikelilingi oleh teman-teman, dosen, serta guru ngaji yang menunjukkan sikap santai saat menghadapi perbedaan, serta figure Muslim Moderat yang tergambar membuat saya lebih tidak terlalu keras seperti dulu dalam beragama. Islam yang dihadirkan merupakan Islam yang bisa merangkul banyak kalangan, tidak hanya pada mereka yang berpemikiran sama namun juga pada yang lain yang juga bahkan bersebrangan.

Tontonan saya pun beralih kepada Gus Mus, Prof. Quraish Shihab, Cak Nun yang saat mendengar dawuh beliau, hati saya menjadi tenang, banyak hal tersingkap saat mendengar dakwah yang disampaikan.

Saya sudah melewati masa Pubertas Beragama dan terbukti bahwa semakin saya tahu, saya akan merasa semakin bodoh akan ketidak tahuan saya selama ini. Perlu proses untuk menjadi muslim yang tidak kagetan.

Dan sekarang, saat melihat teman-teman yang baru memulai hijrahnya, mulai berpakaian syar’I, menghapus foto-foto di social media, membagikan video-video dakwah durasi satu menit dari ustadz-ustadz di Instagram, berdebat tentang mana penulisan yang benar InsyaAllah atau In Shaa Allah, saya hanya bisa mesem sambil bilang dalam hati Aku yo dulu koyo sampean mbak/mas, jangan lupa terus ngaji, sama kyai kampung yo ndak masalah, sing penting ndak cuma paham buat menyalahkan atau mendebat orang lain.

Shares
Share This