Hari Ibu: Dibalik Harapan Kebangkitan Perempuan

Saat ini, kita semua telah berada di penghujung tahun 2018. Seperti biasa, ada perayaan hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember. Lalu apa yang akan kita lakukan? Sedang kita lakukan? atau telah kita lakukan? Memposting foto kita dengan Ibu, atau membuat postingan haru tentang perjuangan seorang Ibu yang melahirkan kita? Yap, itu bagus. Tapi, apa itu nilai dari tanggal ini diperingati? I thought that wasn’t the point.

Peringatan hari Ibu sejatinya membawa sebuah pesan tentang hari perempuan, dengan segala kroniknya yang ada, khususnya di Indonesia.

Mari kita flashback

Pada tahun 2018, gerakan perempuan sedang ramai membahas mengenai topik pengesahan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). Seiring dengan kesadaran kaum perempuan, mereka pun beramai-ramai mengadakan pawai untuk mengangkat isu kekerasan seksual ini seperti Women’s March dan Pawai Gerak bersama pada 16 Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang berlangsung di beberapa daerah di Indonesia.

Berbagai isu perempuan pun kian mewarnai tahun ini. Misalnya, dalam ranah sosial lingkungan, ada isu tentang perempuan nelayan, kekerasan seksual di dunia kerja dan sekolah, serta kerusuhan Mei 1998. Dalam ranah kesehatan, ada pencabutan pengobatan bagi pasien kanker payudara oleh BPJS Kesehatan. Dan dalam ranah hukum, tahun ini masih ditemukan aturan-aturan di daerah yang diskriminatif terhadap kaum perempuan. Contoh kecilnya kita tahu surat edaran yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Bireun, Aceh yang membuat larangan perempuan untuk minum kopi semeja dengan yang bukan muhrim. Belum lagi kasus perkawinan anak di bawah umur, kian mencuat di beberapa daerah. Adil kah?

Dengan membahas kronik yang ada pada tahun ini, akan mendatangkan pertanyaan-pertanyaan kepada kita apakah perempuan dianggap sebagai salah satu jenis manusia yang setara dengan yang lainnya (laki-laki)? Mengapa perjuangannya dilihat hanya sebagai seseorang yang “melahirkan”? Oke fix, banyak bet dah pertanyaan gue. Artinya gini, kalo ngeliat perempuan bisanya cuman buat ngelahirin, terus apa bedanya, hewan juga bisa. So, bukan karena itu maksudnya tanggal 22 Desember itu diperingatin.

In fact, Tanpa kita sadari, budaya di negeri ini memang masih patriarki, dimana semua definisi kini dibuat dan ditentukan oleh laki-laki. Malah terkadang, perempuan nya pun gak sadar dengan kronik ini, saking terasa sakralnya budaya-budaya tersebut. Ironis bukan?

Gerakan-gerakan Indonesia seperti pembahasan RUU PKS memang sangatlah penting. Karena pada tahun ini kita menyaksikan banyak kejahatan terhadap perempuan yang terjadi dan sungguh memprihatinkan. Gerakan-gerakan semacam ini juga senantiasa mengada karena penyelewengan-penyelewengannya pun semakin merajalela. FYI aja nih, kalo kita search di google “Perempuan”, yang muncul itu bukan berita-berita menarik, malahan segala tindak negatif terhadap perempuan.

Intinya, Semoga kronik perempuan di Indonesia yang terjadi pada tahun 2018 ini dapat menjadi alarm bagi kita semua. Dan isu-isu mengenai perempuan pun akan tampil dengan warna yang berbeda, sehingga kita akan melangkah kepada model baharu dan sampai kepada penghormatan hak asasi terhadap manusia. Dari mana mulainya? Pertama dari cara kita memaknai Hari Ibu dengan membawa pemaknaan yang lebih luas sebagai Hari Perempuan. Hari Ibu adalah memorandum bakti dan hormat kita kepada Ibu, sang perempuan hebat yang golongannya masih menyisakan banyak PR untuk kita lanjut perjuangkan. Salam pencerahan 2019!

 

Oleh: Nadhira Yahya

Image: www.tribunnews.com

Shares
Share This