Menarik Perhatian Konsumen di Tengah Luasnya Lautan Konten

Ikhtisiar

  • Masyarakat sebenarnya masih mampu memberi perhatian pada konten. Perbedaanya, saat ini konsumen lebih pemilih.
  • Berdasarkan riset Google dan Ipsos, ini dipengaruhi oleh niat atau “mode” yang aktif saat kita mengkonsumsi konten.
  • Lean-forward adalah mode konsumsi konten secara serius, sehingga tubuh kita fokus dan condong ke arah media konten atau layar, misalnya ketika kita mempelajari cara melakukan sesuatu, mencari informasi, melakukan riset, dan lain – lain.
  • Lean-back adalah mode konsumsi yang lebih ringan, sehingga posisi kita pada saat membaca konten tersebut juga jauh lebih santai, misalnya saat sedang mengonsumsi hiburan tubuh kita lebih memilih bersandar ketimbang tegak.
  • Mode lean-forward harus kita incar sebagai tempat menarik perhatian konsumen dalam strategi marketing.

CirebonMedia.com – Mitos di dunia marketing digital, bahwa rentang perhatian (attention span) manusia telah menurun. Masyarakat modern dikelilingi oleh berbagai macam gadget, dan setiap gadget memiliki begitu banyak konten. Semua konten bersaing berebut perhatian dari pengguna, sementara waktu yang dimiliki pengguna sangat terbatas.

Akibatnya, para pembuat konten (baik itu teks, video, bahkan game) berlomba – lomba menarik perhatian pengguna secepat mungkin. Gagal menarik perhatian artinya konten tidak akan dilirik lagi, mungkin untuk selamanya.

Tapi apa benar kenyataannya seperti itu? Menurut pakar investasi dan pemasaran, Helen Lin, ternyata tidak!


Bukan Kurang Perhatian, Hanya Lebih Memilih

Masyarakat sebenarnya masih mampu memberi perhatian pada konten. Bahkan sangat mampu. Misalnya ketika kita bangun tidur dan mematikan alarm hal pertama yang dilakukan adalah memeriksa chat, email dan sosial media.

Analisis perilaku konsumen dari Google dan Ipsos menunjukan bahwa 81 persen orang yang menonton video ternyata menaruh perhatian pada video tersebut. Perbedaannya, saat ini konsumen lebih pemilih.

Ketika internet dan smartphone belum menjamur, kita hanya bisa mengonsumsi konten dari televisi. Namun berapa kali kita benar – benar fokus pada konten yang ada di televisi? Bandingkan ketika kita menonton video dari smartphone?

Menurut research terakhir yang dilakukan oleh Google dan Ipsos, ketika seseorang masuk dalam mode lean-forward, mereka cenderung memberikan perhatian 1.5X lebih banyak ketika mereka pada mode lean-back. Dan memberikan perhatian 1.8X ketika mereka menonton video online jika dibandingkan menonton di TV.

Ketika konten dinikmati oleh konsumen, konsumen akan menginventasikan waktu dalam jumlah besar. Bahkan hingga berjam – jam. Bagi pegiat marketing, ini berarti atensi konsumen bukan lagi barang gratis, tapi harus diusahakan.


Tingkat Perhatian Dipengaruhi Niat Konsumen

aat lean-back, konsumen menikmati konten sambil multitasking | Sumber Gambar: Pexels

Coba kita ingat, perbedaan yang kamu rasakan ketika menonton televisi, menonton film dibioskop, dan menonton video di smartphone? Apakah tingkat perhatian yang kamu berikan sama? Mungkin tidak.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, tingkat perhatian konsumen saat berada didepan layar bisa berbeda – beda. Mode yang aktif saat kita mengonsumsi konten atau lean-forward dan mode konsumsi yan lebih ringan atau lean-back.

Lean-forward adalah mode konsumsi konten secara serius, sehingga tubuh kita condong ke arah layar. Mode ini terjadi ketika kita:

  • Mempelajari cara melalukan sesuatu.
  • Mencari informasi
  • Melakukan riset
  • Mengeksplorasi kebutuhan dan keinginan
  • Mencari ide

Sebaliknya, lean-back adalah konsumsi yang lebih ringan, sehingga kita melihat layar sambil bersandar atau bahkan berbaring. Mode ini terjadi ketika:

  • Mengonsumsi hiburan
  • Bersantai – santai
  • Menghabiskan waktu

Konsumen Mengabaikan Iklan yang Tak Relevan

Akuilah, terkadang kita memberikan perhatian terhadap iklan yang muncul, dan bukan karena kita seorang pegiat marketing. Karena beberapa iklan tampaknya berbicara langsung kepada anda, sehingga anda tanpa sadar memberikan perhatian lebih terhadap iklan tersebut.

Itu dikarenakan iklan yang anda tonton relevan, membuat kita tanpa sadar memberikan perhatian. Menurut Ipsos, iklan yang relevan terhadap penonton mendapatkan perhatian 3X lebih banyak dibandingkan iklan rata – rata.

Lalu untuk seorang marketing bagaimana caranya untuk membuat iklan yang relevan? Dengan cara menambahkan sudut pandang dari pengalaman seseorang, yang membuat kita mengerti mengapa konsumen mencari konten tersebut di berbagai macam platform.

Misalnya bila kamu menonton video musik Ed Sheeran, lalu ditengah lagu muncul iklan shampoo, kamu akan merasa terganggu bukan? Agar suatu iklan relevan, iklan itu harus meningkatkan kepuasan konsumen, bukan menguranginya.

Dan relevasi iklan berkatian erat dengan banyak hal. Mulai dari demografis konsumen, konten disekitar iklan, platform yang kamu pilih, hingga emosi apa yang kamu tampilkan. Mungkin terdengar sulit, tapi dengan riset dan bantuan berbagai perangkat analitik, kamu bisa melakukannya.


Teknologi memindahkan kekuatan memilih, dari tangan penyedia konten ke tangan konsumen. Jenis konten pun semakin banyak, padahal waktu yang dimiliki konsumen tetap sama. Kita telah masuk ke era “new attention economy“, dimana perhatian konsumen menjadi komoditas yang sangat berharga.

Kita harus beradaptasi terhadap perilaku konsumen. Jangan terkungkung oleh mitos tentang turunnya attention span. Ciptakan konten yang relevan di tempat yang tepat, maka konsumen akan dengan senang hati memberikan perhatiannya padamu.

 

Sumber: TechInAsia, Think with Google

(Diedit oleh Bams Putra)

Shares
Share This