Masjid Sang Cipta Rasa: Simbolisme Islam di Tanah Jawa

CIREBONMEDIA.COM — Masjid Sang Cipta Rasa yang merupakan salah satu masjid bersejarah di Cirebon.

Masjid Sang Cipta Rasa berada di lingkungan Keraton Kasepuhan Cirebon, merupakan salah satu masjid kaya sejarah yang mulai dari pembangunan hingga bagian-bagian dari masjid memiliki kisahnya tersendiri. Masjid yang merupakan salah satu destinasi wisata religi favorit di Cirebon ini dibangun pada tahun 1041 bersamaan dengan dibangunnya masjid yang ada di Bintoro atau yang sekarang lebih dikenal dengan masjid Demak. Masjid Sang Cipta Rasa dan masjid Demak tak sekadar bentuk monumental era penyebaran Islam di tanah Jawa oleh Wali Songo, tapi juga merupakan simbolisme penanda proses dimulainya dan berakhirnya perjuangan Wali pada fase itu. Konon, tidak ada masjid yang dibangun oleh Wali Songo selain dua masjid tersebut sehingga masjid ini seringkali diistilahkan dengan awal-akhir. Mengapa demikian? Penamaan awal-akhir ini karena pada masa Wali Songo penyebaran Islam dimulai di Demak, ditandai dengan adanya Masjid Agung Demak, yang juga merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Dan diakhiri di Cirebon dengan adanya Masjid Sang Cipta Rasa.

Pada masa itu Pulau Jawa tengah dipimpin oleh rajanya yang pertama yaitu Prabu Brawijaya. Beliau memiliki seorang anak bernama Raden Fatah yang sudah beragama Islam (berbeda dengan sang ayah). Sang putera mahkota saat itu memiliki keinginan untuk mempunyai masjid. Kemudian sang ayahanda mengirimkan utusan untuk menemui Wali Songo yang tengah berkumpul di Masjid Pejlagrahan di wilayah Caruban guna menyampaikan maksud Raden Fatah yang hendak membangun Masjid. Setelah pesan tersampaikan, Wali Songo datang menemui Prabu Brawijaya dan mendirikan masjid yang diminta oleh Raden Fatah. Selesai masjid Demak dibangun, Wali Songo kembali ke Caruban untuk membuat masjid Caruban, yang artinya Wali Songo membuat dua masjid hanya dalam satu malam.

Penamaan masjid ini pun unik. Sang Cipta Rasa. “Sang” berarti yang diluhurkan atau diagungkan. “Cipta” berarti diproses, dan “Rasa” berarti dirasakan. Artinya sesuatu yang luhur telah diciptakan untuk kemudian dirasakan manfaatnya.

Sumber mata air di masjid ini ada tiga, yaitu sumur wali, sumur biasa dan PDAM. Untuk sumur wali sendiri merupakan sumur yang digali langsung oleh para Wali Songo saat masjid ini dibuat. Air yang bersumber dari sumur wali bisa diminum langsung tanpa harus direbus terlebih dahulu, sama seperti air zam-zam yang ada di Mekkah. Selain digunakan untuk minum, air ini pun bisa digunakan untuk berwudhu.

Keunikan di masjid Sang Cipta Rasa

            Masjid Sang Cipta Rasa dikenal dengan keunikannya yaitu adanya adzan pitu. Adzan pitu adalah adzan yang dilantunkan oleh 7 orang muadzin secara bersamaan. Adzan ini dilantunkan saat akan dilaksanakannya sholat Jumat. Mengapa tujuh? Karena Allah SWT menyukai sesuatu yang ganjil.

            Keunikan selanjutnya, ada ruangan utama di masjid ini yang diperuntukan hanya untuk solat Jumat, Idulfitri, Iduladha, serta bagi mereka yang hendak melaksanakan itikaf. Untuk masuk ke dalam ruangan ini, seseorang diharuskan dalam keadaan suci dari hadats dan najis, segala peralatan komunikasi pun dihimbau untuk dimatikan karena memang ruangan ini dikhususkan bagi mereka yang hendak beritikaf. Pintu yang berjumlah 8 di sisi-sisinya dan satu pintu utama melambangkan Wali Songo dengan pintu utama sebagai pelambangan dari Sunan Gunung Jati.

Shares
Share This