Sebagai pertemuan budaya antara jawa dan sunda, masyarakat Cirebon memiliki dua bahasa dalam komunikasi sehari-harinya, yaitu bahasa jawa dan sunda. Nama Cirebon sendiri berasal dari kata ”caruban” yang artinya campuran. Hal ini dikarenakan Cirebon merupakan campuran dari berbagai budaya seperti sunda, jawa, tionghoa, serta unsur-unsur budaya arab. Riwayat lain menyebutkan Cirebon berasal dari kata “ci” yang artinya air dan “rebon” yang dalam bahasa sunda yang artinya udang. Kenapa udang? Karena udang merupakan salah satu hasil komoditi laut kota Cirebon.

Kota ini juga memiliki pesona yang sangat memikat sebagai tujuan wisata di Jawa Barat. Mulai dari wisata sejarah kejayaan kerajaan Islam, kisah para Wali, makam Sunan, masjid kuno, klenteng kuno, dan bangunan-bangunan peninggalan zaman Belanda. Bicara tentang wisata kuliner pun, kota Cirebon menyediakan berbagai macam makanan khasnya yang unik. Kota ini juga diwarnai oleh kesenian seperti kerajinan batik serta rotan.

Berbagai macam hal tersebut, akhirnya membuat kota Cirebon menjadi sebuah perpaduan dari beberapa budaya yang ada dan membentuk suatu ciri khasnya tersendiri. Tentulah ini menjadi faktor yang menyebabkan kota Cirebon terkenal sebagai sebuah kota yang mengusung semangat kebersamaan dan pluralisme sejak zaman dahulu. Indahnya kebersamaan ini pun pada akhirnya mampu melahirkan beragam tradisi dan kearifan lokal kota Cirebon yang mana semuanya ini terekam lewat musik, tari, adat istiadat, teater tradisional, dunia seni rupa, dan berbagai macam kesenian lainnya.

Lengkap sudah kearifan lokal kota ini.

Kini, di era informasi dan serba global, persinggungan dengan budaya asing pun tidak bisa dihindari. Kita gak bisa nafikan lagi, memang apapun yang berbau kuno sekarang kerap kemakan zaman.  Kultur masyarakat Cirebon yang identik dekat dengan budaya lokal pun, seiring dengan pesatnya kemajuan, kini agaknya melahirkan masyarakat yang modern. Eits, sebentar, modern atau hedon?

Sebenernya, jika kita amati, apa sih yang bikin suatu kota tertentu itu dibilang kota yang modern? Yang pertama kita lihat dari sebuah kota sehingga kita klaim dia adalah kota yang maju atau modern?

Yap, pembangunan atau infrastrukturnya. Itu. Misalnya, saya orang Cirebon (misal), terus saya pulang kampung nih. “Wah, Cirebon sekarang udah maju ya, bangunannya udah gede-gede, mall dimana-mana”. Nah kan. Memang sih, gak ada yang salah dari mengikuti perkembangan zaman. Tapi ada sesuatu yang ganjel aja gak sih, kenapa sebuah kota dibilang maju itu karena bangunan-bangunan besarnya? Dari seberapa banyak mall nya? Kenapa ukurannya bukan dari seberapa terawatnya keraton yang ada di kota itu, misalnya. Apalagi buat kota yang memang kaya akan banyaknya gedung-gedung atau bangunan kuno. Anyway, why are you stag on that?

Kuno bukan berarti gak modern kan? Artinya gini, gak perlu lah mengganti kelokalan budaya hanya karena takut dibilang kuno atau gak maju. Justru gimana caranya hal tersebut menjadi ciri khas yang akhirnya menjadi citra dan daya tarik tersendiri bagi kota itu. Yogyakarta, kita tahu di kota itu banyak sekali obyek peninggalan sejarah dan wisata lokalnya yang kuno. Dan ini justru menjadikan daya Tarik untuk banyak didatangi oleh pengunjung. Dan, kalo kita bicara tentang sebuah Negara seperti Italy, Roma, Yunani, mereka udah di atas ratingnya lah masalah budaya lokalnya yang nyentrik. Tapi, apa ada kalim yang menyatakan bahwa Italy, Roma, Yunani adalah Negara yang gak maju? Enggak ada.

Selain itu, masyarakat yang maju itu apa lagi? Selain infrastrukrur, kalo kita maju pake ukuran bahwa kita bisa belanja banyak, kita bisa menggunakan merek-merek terkenal, saya rasa itu bukan maju, itu hedon. Maju itu, seberapa banyak masyarakat Cirebon yang masih peduli dengan budaya lokal mereka, seberapa banyak masyarakat Cirebon yang masih gemar datang ke festival-festival lokal atau muludan, dan cinta terhadap budayanya.

Beberapa waktu lalu, teman saya bercerita bahwa ia pergi ke salah satu tempat hiburan dan wisata di kawasan gronggong, disitu ada sebuah café yang masih kosong tapi tau gak ternyata semua kursinya sudah habis reserved. Kalau kita bandingin, pertunjukan wayang yang gratis pun gak pernah sold out semua tiketnya. Jadi, Apakah maju itu bentuknya harus belanja di mall, nongkrong di café-cafe, karaoke dimana-mana? Eh, masih datang ke muludan kah?

Finally, it’s not about the appeareance ya gaes. Budaya asing memang pasti akan masuk, kita semua penikmatnya kok. Tapi, sadari bahwa bukan disitu aja nilai yang harus dianut untuk menjadi sebuah kota yang maju. Once again, do not stag on that! Masih banyak kok yang bisa kita tawarkan untuk menjadi sebuah kota yang maju, tanpa harus kasarnya sih menjual budaya kita sendiri. Italy aja nih, kalo udah ada acara opera di negaranya, tuh tiket abis kejual semua loh. Uda deh, gausa sok2an mau dibilang modern.

Intinya, mari kita telisik kembali pada diri kita masing-masing, apakah kota Cirebon sekarang ini benar masyarakatnya yang maju, atau jangan-jangan kita hanya latah dan dengan sangat cepat menyerap budaya asing yang masuk tanpa sadar bahwa kita mempunyai budaya lokal yang harus kita jaga.

Shares
Share This