RUWATAN TRADISI YANG HAMPIR HILANG

Cirebonmedia.com – Ruwatan adalah sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan di dalam hidupnya. Ritual Ruwatan biasanya dilakukan dengan pagelaran wayang bersama dalang yang berkemampuan khusus dalam bidang ruwat.  Karena pagelaran wayang merupakan acara yang dianggap sakral dan memerlukan biaya yang cukup banyak, maka pelaksanaan ruwatan pada zaman sekarang ini  pagelaran wayang dilakukan dalam lingkup pedesaan atau pedusunan.  Ritual ini masih dilakukan oleh masyarakat Jawa. Biasanya dilakukan pada siang hari setiap Selasa pon di bulan Muharam dalam penanggalan Islam.

Pada ritual Pangruwatan anak sukerta atau anak yang di ruwat akan di potong rambutnya oleh dalang. Yang menurut kepercayaan masyarakat Jawa kesialan dan kemalangan anak tersebut akan menjadi tanggungan sang dalang karena sudah menjadi anak dalang tersebut. Sebelum melakukan ritual anak sukerta biasanya di arak keliling kampung dengan diiringi kesenian tradisonal. Sesaji pun di siapkan sebagai syarat untuk melakukan ritual. Biasanya ruwat dilaksanakan ketika: anak yang sedang sakit, anak tunggal yang tidak memiliki adik maupun kakak, terkena sial, jauh jodoh, susah mencari kehidupan, mempunyai tanda Wisnu (tanda putih pada badannya), dll.

Pada ritual Pangruwatan anak sukerta atau anak yang di ruwat akan di potong rambutnya oleh dalang. Yang menurut kepercayaan masyarakat Jawa kesialan dan kemalangan anak tersebut akan menjadi tanggungan sang dalang karena sudah menjadi anak dalang tersebut.

pagelaran wayang dalam ruwatan foto : busurnews.com

Tradisi buang sial ini sebenarnya diambil dari kisah pewayangan. Yang menceritakan tentang seorang anak yang menjadi raksasa yaitu Batara Kala yang selalu memakan manusia yang berdosa. Anak yang dimaksud adalah anak Batara guru. Atas dasar inilah lalu di carikan solusi agar anak tidak dimakan oleh Batara Kala maka perlu dilakukan ruwatan. Tradisi ini  di jawa ( jawa tengah) awalnya diperkirakan berkembang di dalam cerita jawa kuno, yang isi pokoknya memuat masalah pensucian, yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda, agar menjadi suci kembali.

Masyarakat Jawa meyakini dengan menggelar ritual ruwatan diharapkan anak-anak terhindar dari kesialan hidup nantinya. Namun seiring perkembangan zaman tradisi ini sudah hampir jarang di temukan. Hanya segelintir orang saja yang masih melakukannya. Menjadi tugas kita untuk melestarikan kebudayaan tradisional agar generasi selanjutnya tetap dapat menikmatinya. Selain ruwatan masih banyak kebudayaan tradisional kita yang lambat laun terus tergerus perkembangan zaman. Walaupun tidak benar-benar hilang namun keberadaannya sudah mengkhawatirkan.

 

Penulis : Rief

Menu

Pin It on Pinterest

Shares
Share This